Mengenal Kepala SMK PGRI 1 Nganjuk Lukman, Beri Contoh dengan Datang Paling Pagi

Novanda Nirwana • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 14:29 WIB
DISIPLIN: Kepala SMK PGRI 1 Nganjuk Lukman selalu datang ke sekolah lebih awal. (novanda nirwana/jprk)
DISIPLIN: Kepala SMK PGRI 1 Nganjuk Lukman selalu datang ke sekolah lebih awal. (novanda nirwana/jprk)

Datang Paling Pagi, Bukan Sekadar Memberi Perintah

Ada cara sederhana yang dipilih Drs. H. Lukman dalam memimpin SMK PGRI 1 Nganjuk. Di usia 62 tahun, kepala sekolah yang mulai dipercaya memimpin sejak 2017 itu lebih suka memberi contoh daripada sekadar memberi perintah.

Hampir setiap pagi, Lukman datang lebih awal ke sekolah. Sekitar pukul 06.30, ketika kegiatan belajar mengajar belum dimulai, dia sudah berada di lingkungan sekolah.

Bukan hanya berada di ruang kepala sekolah, Lukman juga kerap menyambut siswa yang datang. Kebiasaan itu menjadi bagian dari caranya membangun kedisiplinan di lingkungan sekolah.

Menurut dia, keteladanan akan lebih mudah diterima daripada teguran yang terus-menerus.

“Kalau ada guru yang telat terus melihat saya sudah di sekolah, pasti ada rasa tidak enak,” ujarnya.

Kebiasaan yang sama juga terlihat saat jam pulang. Lukman memilih tetap berada di sekolah dan mengikuti aktivitas yang berlangsung. Dia baru meninggalkan sekolah ketika ada keperluan atau kegiatan di luar.

Memberi Kepercayaan kepada Guru

Bagi Lukman, guru tetap menjadi bagian penting dalam proses pendidikan siswa. Karena itu, kepercayaan menjadi salah satu prinsip yang dia pegang selama memimpin sekolah.

“Di sini saya serahkan semua kepada guru. Saya memberikan kepercayaan lebih terhadap guru untuk bisa mendidik siswanya,” katanya.

Memberikan kepercayaan bukan berarti Lukman lepas tangan. Dia justru merasa kepala sekolah harus menunjukkan contoh terlebih dahulu kepada para guru.

Dengan cara itu, kedisiplinan tidak berhenti sebagai aturan tertulis, tetapi menjadi kebiasaan yang dijalankan bersama.

“Saya tidak pernah memarahi guru. Saya memberikan contoh langsung,” tuturnya.

Empat Dekade Mengabdi di SMK PGRI 1 Nganjuk

Hubungan Lukman dengan SMK PGRI 1 Nganjuk sudah berlangsung jauh sebelum dirinya menjadi kepala sekolah.

Dia mulai mengajar di sekolah tersebut pada 1986 dengan bidang teknik kelistrikan. Artinya, lebih dari empat dekade telah dia habiskan untuk mengabdi di lingkungan sekolah yang sama.

Panjang perjalanan itu membuat Lukman mengenal sekolah bukan hanya dari sisi administrasi. Dia juga melihat sendiri bagaimana sekolah dan karakter siswa berkembang dari waktu ke waktu.

Pengalaman sebagai guru kemudian menjadi bekal ketika dia dipercaya menjadi kepala sekolah pada 2017.

Menurutnya, pengalaman mengajar membuat seorang pemimpin sekolah lebih memahami bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada fasilitas atau kemampuan akademik siswa.

Karakter Siswa Jadi Perhatian Utama

Sebagai sekolah kejuruan, SMK PGRI 1 Nganjuk dituntut mampu menyiapkan lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.

Namun, bagi Lukman, kemampuan teknis bukan satu-satunya bekal yang harus dimiliki siswa. Ada hal lain yang justru membutuhkan waktu lebih panjang untuk dibentuk, yaitu karakter.

“Kalau masalah keterampilan siswa itu gampang. Kursus satu minggu sudah bisa. Tapi karakter itu beda,” tegasnya.

Karena itu, disiplin, tanggung jawab, dan profesionalisme terus ditanamkan kepada siswa.

Lukman menilai dunia kerja tidak hanya mencari orang yang bisa menyelesaikan pekerjaan. Sikap dan kebiasaan dalam bekerja juga menjadi pertimbangan penting.

“Kalau sudah disiplin dan profesional, pasti ada banyak pekerjaan yang menunggu di luar sana,” ujarnya.

Prinsip itulah yang membuat sekolah tidak hanya berfokus pada kemampuan siswa di bidang keahlian masing-masing. Kebiasaan dan karakter juga terus dibentuk selama mereka berada di lingkungan sekolah.

Kepercayaan Masyarakat yang Harus Dijaga

Upaya tersebut berjalan beriringan dengan tingginya minat masyarakat terhadap SMK PGRI 1 Nganjuk.

Lukman menyebut jumlah siswa di sekolahnya saat ini sangat banyak. Bahkan, dalam penerimaan peserta didik baru, sekolah harus melakukan seleksi karena daya tampung yang terbatas.

“Alhamdulillah di sini muridnya banyak sekali, sampai nolak-nolak ribuan siswa,” ungkapnya.

Bagi Lukman, tingginya minat tersebut merupakan bentuk kepercayaan masyarakat yang harus dijaga.

Sekolah, menurut dia, tidak boleh hanya menjadi tempat siswa mengejar ijazah. Lebih dari itu, sekolah harus menjadi tempat untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia kerja dan kehidupan setelah lulus.

Empat puluh tahun lebih berada di lingkungan yang sama membuat Lukman menjadi saksi perjalanan panjang SMK PGRI 1 Nganjuk. Dari seorang guru teknik kelistrikan hingga dipercaya menjadi kepala sekolah, prinsip yang dia pegang tidak banyak berubah.

Pendidikan, menurut Lukman, tidak cukup hanya dengan teori dan keterampilan.

Keterampilan bisa terus diasah. Namun, karakter dibentuk melalui kebiasaan dan keteladanan yang dilakukan berulang kali.

Karena itu, Lukman memilih memulainya dari dirinya sendiri: datang lebih pagi, menyambut siswa, berada di sekolah hingga kegiatan selesai, dan memberikan kepercayaan kepada guru untuk menjalankan tugasnya.

Bukan dengan banyak bicara, tetapi dengan menunjukkan bagaimana seorang pendidik seharusnya bersikap.

Editor : Miko
pendidikan nganjuk SMK PGRI 1 Nganjuk Kepala SMK PGRI 1 Nganjuk Lukman SMK PGRI 1 Nganjuk pendidikan karakter