AKBP drg Wahyu Ari Prananto, MARS Usung Semboyan Ki Hadjar Dewantara Jalani Peran Dokter dan Anggota

Novanda Nirwana • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 13:49 WIB
Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Rumah Sakit Bhayangkara Nganjuk AKBP drg Wahyu Ari Prananto, MARS
Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Rumah Sakit Bhayangkara Nganjuk AKBP drg Wahyu Ari Prananto, MARS

 

Usung Semboyan Ki Hadjar Dewantara Jalani Peran Dokter dan Anggota Polri


Dokter Gigi Wahyu Ari Prananto, MARS
menjalani dua profesi sekaligus. Yaitu, sebagai dokter sekaligus anggota Polri. Dua profesi tersebut berhasil dijalankan dengan baik. Sehingga, RS Bhayangkara berkembang semakin pesat. 


“Dua-duanya sama-sama mengabdi sebagai dokter dan polisi, tetapi profesinya berbeda,” ujar Wahyu. Sebagai anggota kepolisian, pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian yang melekat dalam setiap tugas. Bahkan, ketika mendapat perintah untuk menangani suatu kejadian, tidak ada banyak waktu untuk memilih situasi maupun kondisi.
Salah satunya ketika mendapat perintah menangani kecelakaan lalu lintas (laka). Begitu ada perintah, dia harus segera berangkat ke lokasi. Waktu dan kondisi bukan menjadi alasan untuk menunda tugas.
“Ketika dapat perintah laka kapal di suatu tempat, tanpa melihat waktu kami harus langsung berangkat,” jelasnya.
Sementara ketika menjalankan peran sebagai dokter, mekanisme pengabdiannya berbeda. Masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan menjadi fokus utama pelayanan.
“Kalau sebagai dokter, ada yang sakit ya saya tangani. Kalau membutuhkan bantuan terkait kesehatan, ya kami bantu. Jadi prosesnya berbeda,” katanya.
Perbedaan karakter dua profesi tersebut membuat kemampuan beradaptasi menjadi hal penting. Penugasan di berbagai tempat dan kondisi juga menghadirkan tantangan tersendiri. Namun, tantangan tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan pengabdian yang dijalaninya.
“Ditugaskan di manapun, dalam situasi manapun, selalu ada tantangannya. Tetapi kalau dinikmati ya nikmat juga,” ujarnya.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika dirinya harus menjalankan kemampuan sebagai dokter dan polisi secara bersamaan. Saat itu, dia mendapat penugasan terkait penemuan jenazah di Papua.
Situasi ketika itu tidak sederhana. Jenazah tersebut diperebutkan oleh banyak pihak. Di tengah kondisi tersebut, berbagai isu juga bermunculan. Tekanan pun datang dari berbagai arah.
Dalam kondisi seperti itu, dia harus menempatkan diri sebagai dokter sekaligus polisi. Sebagai dokter, ada tanggung jawab profesional yang harus dijalankan. Di sisi lain, sebagai anggota Polri, terdapat tugas negara yang juga harus diselesaikan.
“Kami bekerja di bawah tekanan sebagai dokter dan polisi di saat yang bersamaan,” ungkapnya.
Dalam menjalankan dua peran tersebut, dia juga memiliki prinsip yang menjadi pegangan. Nilai tersebut terinspirasi dari pemikiran tokoh pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara dengan semboyan 'Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani'.
Semboyan tersebut dimaknainya sebagai prinsip untuk bisa memberikan manfaat sesuai dengan posisi masing-masing. Ketika berada di depan, seseorang harus mampu memberikan teladan. Ketika berada di tengah, harus mampu membangun semangat dan membantu. Sementara ketika berada di belakang, tetap memberikan dorongan dan dukungan.
“Kalau di depan memberi teladan, kalau di tengah membangun semangat. Kalau di belakang memberi dorongan,” pungkasnya. (nov/tyo)

Editor : Novanda Nirwana
rs bhayangkara nganjuk profesi dokter profesi polisi ki hajar dewantara rumah sakit