JP Radar Nganjuk - Festival Film Cannes ke-78, yang berlangsung pada 13–24 Mei 2025 di Palais des Festivals, Prancis, menjadi sorotan dunia bukan hanya karena karya sinema, tetapi juga drama busana di karpet merah.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah penampilan penyanyi Indonesia, Syahrini, yang debutnya di acara bergengsi ini memicu diskusi hangat.
Busana glamor yang dikenakannya diduga melanggar aturan berpakaian baru yang diterapkan panitia festival. Aturan Baru Cannes yaitu fokus pada Kesopanan dan Kelancaran Acara
Tahun ini, penyelenggara Cannes memperketat pedoman berbusana untuk menjaga “martabat institusional” dan mematuhi hukum Prancis.
Busana transparan, naked dress, serta pakaian dengan ekor panjang atau terlalu bervolume dilarang keras karena dapat mengganggu mobilitas tamu dan pengaturan tempat duduk di teater.
Wanita diwajibkan mengenakan gaun malam elegan atau busana formal, sementara pria harus memakai tuksedo. Sneakers dilarang, dan sepatu hak tinggi atau sandal elegan menjadi syarat wajib.
Aturan ini menuai kritik karena dianggap membatasi ekspresi kreatif, namun panitia menegaskan bahwa langkah ini bertujuan mengembalikan fokus pada esensi festival, yaitu film.
Syahrini, yang dikenal dengan gaya mewahnya, tampil memukau di karpet merah Cannes 2025.
Ia mengenakan gaun silver berpayet berkilau dengan outer brokat berkerah tinggi, dipadukan dengan mahkota perak, perhiasan berlian, dan tas tangan Hermes navy.
Gaun panjang yang menjuntai ini menciptakan siluet dramatis bak pengantin, membuatnya menjadi pusat perhatian.
Namun, panjang gaun yang menyapu lantai diduga melanggar aturan baru yang melarang busana berekor panjang karena alasan kepraktisan.
Meski begitu, Syahrini tampaknya tetap diizinkan melenggang tanpa hambatan oleh petugas keamanan, mirip dengan kasus Heidi Klum yang juga mengenakan gaun berekor panjang.
Penampilan Syahrini memicu beragam reaksi di media sosial. Banyak yang memuji keanggunan dan keberaniannya, tetapi tak sedikit pula yang mempertanyakan kehadirannya di Cannes.
Pasalnya, Syahrini tidak dikaitkan dengan proyek film atau musik baru yang relevan dengan festival.
Netizen berspekulasi bahwa ia hadir sebagai tamu VIP, kemungkinan melalui undangan acara amal eksklusif atau event sampingan yang terkait dengan brand fashion ternama seperti Hermes.
Keberadaannya bersama tokoh penting, seperti petinggi brand mode dan Dewi Sukarno, memperkuat dugaan ini. Komentar seperti, “Kok bisa hadir tanpa film? Undangan dari mana?” mencerminkan rasa penasaran publik.
Syahrini bukan satu-satunya selebritas yang busananya dianggap melanggar aturan. Heidi Klum tampil dengan gaun Elie Saab beraksen ekor panjang, sementara Halle Berry juga memilih gaun bervolume dengan ekor pendek pada hari kedua festival.
Meski aturan ditegaskan, beberapa tamu tampaknya masih menemukan celah untuk mengekspresikan gaya mereka, dan panitia tampaknya tidak selalu konsisten dalam penegakan aturan.
Hal ini memicu pertanyaan: apakah aturan baru ini akan benar-benar mengubah wajah karpet merah Cannes, atau justru menjadi tantangan bagi selebritas untuk tetap tampil berani?
Kemunculan Syahrini di Cannes 2025 menegaskan bahwa karpet merah tetap menjadi panggung untuk menampilkan gaya dan kepribadian, meski di tengah aturan ketat.
Busananya yang glamor namun diduga melanggar aturan mencerminkan dilema antara ekspresi individu dan kebijakan festival.
Sementara publik terus memperdebatkan kehadirannya, satu hal pasti, Syahrini berhasil membuat dunia berbicara tentangnya, membuktikan bahwa pesona “Princess Syahrini” masih memikat di panggung internasional.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira