JP Radar Ngajuk- Di tengah gempuran teknologi sejak usia dini, menjaga keseimbangan antara screen time dan aktivitas bermain bebas kini menjadi tantangan besar bagi para orang tua. Laporan terbaru dari Common Sense Media mengungkap perubahan signifikan dalam pola konsumsi media anak usia 0 hingga 8 tahun.
Meski durasi total screen time anak tidak meningkat drastis—tetap di kisaran 2,5 jam per hari—namun cara anak-anak memanfaatkan waktu tersebut mengalami pergeseran. “Anak-anak sekarang lebih banyak bermain game dan menonton video pendek seperti TikTok atau Reels dibandingkan menonton TV,” ujar Supreet Mann, PhD, Direktur Riset Common Sense Media.
Data menunjukkan bahwa hampir separuh anak (48%) di rentang usia tersebut pernah menonton video pendek. "Perubahan ini menghadirkan peluang, seperti pembelajaran interaktif, namun juga tantangan baru, seperti celah pengawasan konten," jelasnya.
Media Digital Masuk di Usia Dini
Menurut penelitian, kepemilikan perangkat digital kini terjadi di usia yang sangat muda. Sebanyak 40% anak usia 2 tahun telah memiliki tablet sendiri, dan hampir seperempat anak usia 8 tahun telah memiliki ponsel pribadi. Lebih mengejutkan, 39% anak usia 5–8 tahun sudah menggunakan fitur AI untuk keperluan belajar.
“Perangkat digital kini menjadi bagian dari rutinitas harian anak-anak, bahkan dalam hal transisi tidur atau menenangkan diri,” ujar Carla Counts Allan, PhD, Kepala Divisi Psikologi di Phoenix Children’s Hospital.
Baca Juga: Waspada Gangguan ADHD pada Anak, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya Sejak Dini
Bertentangan dengan Rekomendasi Dokter Anak
Asosiasi Dokter Anak Amerika (AAP) menyarankan agar anak di bawah 18 bulan tidak diberi screen time, kecuali video call. Anak usia 18–24 bulan disarankan hanya menonton konten edukatif dengan pendampingan orang tua. Namun, studi ini menunjukkan bahwa banyak keluarga yang melampaui batas waktu yang dianjurkan oleh AAP.
“Masih banyak orang tua yang tidak mendampingi anak saat menonton, terutama di platform seperti TikTok. Hanya 17% orang tua yang co-viewing konten TikTok dengan anaknya,” jelas Don Grant, PhD, penasihat nasional untuk manajemen perangkat sehat di Newport Healthcare.
Dampak Negatif Paparan Media Digital
Paparan media digital berlebihan dapat berdampak negatif pada perkembangan kognitif, sosial-emosional, hingga gangguan tidur dan obesitas. Bahkan, peningkatan screen time turut dikaitkan dengan meningkatnya kasus miopia (rabun jauh) pada anak.
"Jika kebiasaan ini dibiarkan, anak bisa saja mengalami kesulitan dalam mengelola emosi, konsentrasi menurun, dan mudah frustrasi,” kata Dr. Allan. Ia juga menyoroti pentingnya tidur yang cukup bagi tumbuh kembang anak.
Baca Juga: Sarapan Sehat dan Lezat untuk Anak, Ide Menu Praktis Setiap Hari
Panduan Bijak untuk Orang Tua
Dr. Mann dan Dr. Allan memberikan beberapa kiat praktis untuk mengelola penggunaan media digital pada anak:
- Hindari penggunaan layar pada anak di bawah 18 bulan, kecuali untuk video call.
- Pilih konten edukatif dan interaktif, serta dampingi anak saat menonton.
- Hindari penggunaan layar saat bangun tidur, makan, dan sebelum tidur, karena ini masa penting untuk mengembangkan kemampuan mengatur diri.
- Seimbangkan screen time dengan aktivitas fisik dan interaksi sosial.
- Jadilah teladan, ciptakan zona bebas gadget di rumah seperti saat makan bersama.
- Nonaktifkan fitur auto-play agar anak tidak terus-menerus terpapar tanpa kontrol.
- Pertimbangkan dengan matang sebelum mengenalkan teknologi baru, termasuk usia anak dan batasan penggunaan.
“Begitu anak dikenalkan dengan teknologi, sulit untuk menariknya kembali,” tegas Dr. Grant. Maka, orang tua perlu cermat dalam menentukan waktu dan cara mengenalkannya.
Sumber : parent.com
Editor : Jauhar Yohanis