Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Ekonomi & Bisnis Lifestyle Seni & Budaya Opini Khazanah Video

Awas! Jangan Sebut Anak Sebagai Generasi Stroberi. Komunikasi Tanpa Drama Agar Sukses Grow Together

Jauhar Yohanis • Sabtu, 24 Mei 2025 | 20:44 WIB

 

Neuroparenting harus dikuasai sejak dini agar bisa berkomunikasi ceria dengan anak
Neuroparenting harus dikuasai sejak dini agar bisa berkomunikasi ceria dengan anak

Di era serba digital, banyak orang tua mengeluhkan sulitnya membangun komunikasi dengan anak. Tak jarang, percakapan sederhana pun berakhir dengan konflik, salah paham, bahkan drama yang melelahkan kedua pihak. Lalu, bagaimana seharusnya orang tua menjalin komunikasi sehat dengan anak?

Dalam seminar bertema “Komunikasi Tanpa Drama & Grow Together”, dr. Aisyah Dahlan, seorang dokter sekaligus ibu dari lima anak yang semuanya menekuni bidang kedokteran, berbagi wawasan mendalam soal neuroparenting—ilmu pengasuhan berbasis pemahaman kerja otak.

Neuroparenting: Kunci Memahami Anak di Era Modern

Menurut dr. Aisyah, orang tua zaman sekarang tidak bisa lagi mengandalkan pola pengasuhan lama yang keras atau penuh tuntutan. Anak-anak generasi kini memiliki kemampuan otak yang jauh lebih kompleks. Namun, agar mereka berkembang optimal, dibutuhkan pendekatan soft touch, yaitu komunikasi yang lembut, penuh empati, dan bebas kekerasan.

“Setiap kata yang kita ucapkan pada anak akan memengaruhi sambungan neuron di otak mereka. Itu akan membentuk ingatan dan kebiasaan,” jelas dr. Aisyah.

Jangan Melabeli Anak Sebagai Generasi Stroberi

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah memberi label negatif. Istilah seperti “generasi stroberi”, “generasi rebahan”, atau sebutan meremehkan lainnya hanya akan menghancurkan kepercayaan diri anak.

Padahal, tantangan yang mereka hadapi sangat berbeda dari zaman orang tua dulu. Mereka harus pandai memilih informasi dari media sosial, menghadapi ancaman penipuan digital, dan membangun ketangguhan diri di tengah arus teknologi.

“Jangan anggap mereka lemah hanya karena cara berpikirnya berbeda,” tegas dr. Aisyah.

Peran Ayah & Ibu: Fondasi yang Tak Bisa Ditukar

Dalam keluarga, ayah dan ibu memegang peran yang sama pentingnya, tapi dengan fungsi berbeda.

Ayah adalah pemimpin visi pendidikan, pemberi nasihat prinsip hidup, serta teladan nilai-nilai agama. Inspirasi ini bisa diambil dari nasihat Luqman dalam Al-Qur’an yang mengajarkan anak tentang tauhid, moral, dan kebijaksanaan.

Ibu adalah pelaksana harian yang mendampingi anak dalam aktivitas sehari-hari, menjelaskan nilai-nilai secara detail, dan menjadi sahabat bicara.

Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perempuan berbicara 20.000 kata per hari, jauh lebih banyak dibanding laki-laki yang hanya 7.000 kata. Artinya, kebutuhan bicara ibu bukan hanya untuk menyampaikan pesan, tapi juga menjaga kesehatan emosionalnya.

Pengulangan & Variasi: Membentuk Sambungan Neuron yang Kuat

Dalam mendidik anak, orang tua sering merasa frustrasi karena anak seperti “tidak mendengar” atau “tidak berubah” meski sudah dinasihati berkali-kali. Padahal, menurut ilmu neuroparenting, pengulangan dengan variasi adalah kunci utama.

Setiap pengulangan akan menebalkan sambungan neuron di otak anak, memperkuat pemahaman mereka, dan akhirnya membentuk kebiasaan baik yang otomatis dilakukan. Jadi, jangan bosan mengulang, tapi lakukan dengan cara yang kreatif agar anak tidak merasa digurui.

Grow Together: Bertumbuh Bersama Anak, Bukan Memaksa Anak Tumbuh Sendiri
Seminar ini menekankan satu pesan utama: komunikasi tanpa drama hanya mungkin terwujud jika orang tua dan anak mau bertumbuh bersama. Orang tua perlu terus belajar, memperbaiki cara bicara, menyesuaikan pendekatan, dan menghargai perbedaan zaman.

Di sisi lain, anak pun harus belajar mendengarkan, memahami nilai-nilai yang diajarkan, dan berlatih menjadi pribadi tangguh.

“Anak-anak bukanlah miniatur kita. Mereka adalah pribadi utuh yang perlu kita dampingi, bukan kita paksakan,” tutup dr. Aisyah.

Pentingnya Komunikasi yang Baik Pada Anak

Pola komunikasi tanpa drama membutuhkan pemahaman mendalam tentang neuroparenting, kesadaran peran ayah dan ibu, serta kesabaran untuk mengulang nasihat dengan variasi. Jangan biarkan perbedaan zaman memisahkan orang tua dan anak. Sebaliknya, mari belajar tumbuh bersama—grow together—agar keluarga tetap hangat, kuat, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Editor : Jauhar Yohanis
#Dr Aisyah Dahlan #Neuroparenting #grow together #komunikasi anak dan orang tua