Masa pra-remaja, yaitu usia 9 hingga 12 tahun, merupakan masa transisi yang sangat penting dalam perkembangan seorang anak. Di usia ini, anak mulai mengalami perubahan besar. Baik secara fisik, kognitif, emosional, maupun sosial. Mereka mulai mencari jati diri, menjelajah kemandirian dan sering kali menguji batasan yang telah ditetapkan oleh orang tua atau pengasuh. Bagi banyak orang tua, masa ini bisa terasa penuh tantangan dan membingungkan.
Namun, dengan pendekatan yang tepat, masa pra-remaja juga bisa menjadi periode yang mempererat hubungan antara orang tua dan anak. Berikut adalah sembilan tips dari para ahli di Child Mind Institute yang bisa membantu Anda dalam mengarungi fase penting ini dengan lebih bijak dan tenang.
1. Terima Kemandirian Anak
Salah satu hal paling signifikan yang terjadi pada pra-remaja adalah munculnya dorongan untuk menjadi mandiri. Banyak orang tua merasa tersingkir atau sedih saat anak mulai menarik diri, namun penting untuk tidak menganggap ini sebagai sesuatu yang personal. Sebaliknya, pahami bahwa ini adalah bagian alami dari proses pertumbuhan. Jangan terlalu memaksa anak untuk terbuka—hormati ruang pribadinya dan biarkan ia tahu bahwa Anda selalu tersedia saat ia siap berbicara.
2. Sediakan Waktu Khusus Bersama Anak
Meskipun anak mulai ingin lebih mandiri, mereka tetap membutuhkan kedekatan emosional dengan orang tua. Cobalah meluangkan waktu khusus secara rutin untuk berinteraksi tanpa gangguan, seperti tanpa ponsel atau TV. Aktivitas sederhana seperti berjalan bersama, memasak, atau bermain game bisa mempererat hubungan dan sekaligus mengajarkan keterampilan sosial yang penting.
3. Gunakan Pendekatan Tidak Langsung
Menanyakan pertanyaan secara langsung seperti “Ada apa denganmu?” bisa membuat anak merasa terpojok atau tertekan. Sebagai gantinya, gunakan pendekatan yang lebih santai dan tidak menginterogasi. Tunjukkan bahwa Anda siap mendengarkan tanpa menghakimi. Terkadang, anak akan lebih terbuka saat merasa mereka tidak dipaksa untuk bicara.
4. Jangan Terlalu Menghakimi
Cara Anda berbicara tentang orang lain, termasuk anak-anak lain, akan diperhatikan oleh anak Anda. Jika Anda terlalu sering mengkritik atau mengejek orang lain, anak bisa merasa takut dihakimi juga. Latihlah untuk menyampaikan pandangan dengan cara yang seimbang—berikan panduan tanpa terlalu mengkritik. Hal ini membantu menciptakan suasana yang aman secara emosional bagi anak.
5. Ikuti Minat Media Mereka
Media—termasuk film, acara TV, atau media sosial—memiliki pengaruh besar dalam cara anak melihat dunia. Orang tua dianjurkan untuk menonton atau mengakses media yang disukai anak, kemudian berdiskusi ringan tentangnya. Jika ada konten yang mengkhawatirkan, bicaralah dengan pendekatan yang lembut, tanpa membuat anak merasa diserang atau malu.
6. Bahas Topik Sensitif Sejak Dini
Jangan tunggu hingga anak bertanya atau terjadi masalah besar untuk membicarakan seks atau narkoba. Sebaliknya, mulailah percakapan ini sejak dini dengan bahasa yang sesuai usia. Anda bisa menggunakan buku, artikel, atau video yang relevan sebagai alat bantu. Informasi yang jelas dan akurat akan membantu anak membuat keputusan yang sehat saat mereka lebih besar nanti.
7. Jaga Reaksi Anda
Ketika anak melakukan kesalahan atau menghadapi masalah, reaksi orang tua sangat berpengaruh. Hindari bereaksi secara berlebihan. Tetap tenang dan dengarkan terlebih dahulu. Sikap tenang Anda akan membantu anak merasa aman untuk datang kepada Anda jika terjadi sesuatu di masa depan.
8. Jangan Abaikan Masalah
Meski penting untuk tidak bereaksi berlebihan, menjadi terlalu cuek juga tidak ideal. Temukan titik tengah—pahami apa yang terjadi dalam hidup anak, tetapi jangan terlalu mengontrol. Keseimbangan ini akan menciptakan hubungan yang didasari oleh kepercayaan.
9. Tunjukkan Dukungan Anda
Apapun minat anak—apakah olahraga, seni, menulis, atau aktivitas lain—berikan dukungan yang nyata. Biarkan anak tahu bahwa Anda menghargai minat dan emosinya. Ini membantu mereka tumbuh menjadi individu yang percaya diri dan merasa dihargai. Dukungan emosional dari orang tua sangat penting dalam membangun ketahanan psikologis anak saat menghadapi tantangan remaja.(*)
Editor : Jauhar Yohanis