JP Radar Kediri – Saat tubuh mulai terasa lelah, pikiran kacau, dan emosi tidak menentu, ada satu hal sederhana yang sering kali bisa menjadi penyelamat: semangkuk makanan hangat.
Baik itu sup bening, teh jahe, wedang uwuh, ataupun bubur ayam yang mengepul, sensasi hangat yang muncul dari makanan tersebut ternyata mampu memberikan efek menenangkan secara emosional.
Bukan hanya sekadar mengenyangkan perut, namun juga menyejukkan pikiran dan menghangatkan hati.
Menurut psikolog, fenomena ini berkaitan erat dengan hubungan antara makanan dan memori emosional. Aroma makanan yang familiar sering kali membangkitkan kenangan masa kecil, saat kita merasa aman, dicintai, dan dilindungi.
Tak heran jika makanan hangat kerap disebut sebagai “comfort food”, karena bisa menjadi penenang di tengah tekanan hidup.
Dari sisi ilmiah, makanan hangat membantu tubuh melepaskan hormon serotonin dan dopamin, dua zat kimia yang berkaitan erat dengan suasana hati yang baik.
ketika hormon-hormon ini meningkat, tubuh terasa lebih rileks, kecemasan menurun, dan suasana hati menjadi lebih stabil. Ini pula yang membuat kita sering mencari makanan berkuah atau hangat di saat stres atau kelelahan mental melanda.
Lebih dari itu, kegiatan menyantap makanan hangat biasanya diiringi dengan momen hening, perlahan, dan tanpa tergesa-gesa.
Dalam kondisi ini, tubuh diberi kesempatan untuk tenang, pikiran lebih terfokus, dan emosi bisa kembali tertata. Bagi sebagian orang, inilah bentuk “perawatan diri” yang paling sederhana namun sangat bermakna.
Makanan hangat juga memiliki makna sosial yang kuat. Di banyak rumah, momen makan bersama dengan sajian hangat sering kali menjadi simbol kebersamaan dan kasih sayang.
Dalam budaya Jawa misalnya, menyuguhkan teh atau wedang hangat pada tamu menjadi simbol sambutan dan kehangatan relasi.
Kesimpulannya, makanan hangat bukan hanya sekadar asupan gizi. Ia punya kekuatan untuk menjembatani tubuh dan jiwa. Kehadirannya mampu menenangkan, menyatukan, bahkan menyembuhkan luka batin yang kadang tak tampak.
Maka, tak perlu merasa bersalah jika saat sedang tidak baik-baik saja, kita memilih duduk diam sambil menikmati makanan hangat favorit. Karena bisa jadi, itulah bentuk kecil dari proses penyembuhan diri yang sangat kita butuhkan.
Penulis: Joenaidi Zidane, Mahasiswa Magang Politeknik Negeri Madiun (PNM)
Editor : Jauhar Yohanis