Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Kucing Belum Mau BAB di Toilet Setelah 4 Minggu! Ini Fakta Mengejutkan yang Harus Kamu Tahu Sebelum Coba Sendiri

Jauhar Yohanis • Senin, 21 Juli 2025 | 02:30 WIB

Kucing bisa diajari bab di toilet
Kucing bisa diajari bab di toilet

Melatih kucing untuk buang air di toilet bukan hanya impian para pemilik hewan peliharaan, tetapi juga solusi praktis untuk mengurangi biaya pasir kucing dan pekerjaan membersihkan litter box setiap hari. Namun, tidak semua upaya toilet training kucing berakhir dengan sukses, seperti yang dialami oleh pemilik kucing bernama Rambo ini.

Dalam kisah nyata yang diunggah ke YouTube, sang pemilik mencoba toilet training untuk kedua kalinya setelah kegagalan pertama dua bulan sebelumnya. Apa saja yang terjadi selama proses empat minggu itu? Apakah akhirnya berhasil atau justru kembali ke titik awal? Simak kisah lengkapnya berikut ini.

Awal yang Penuh Harapan

Pemilik Rambo memulai toilet training dengan semangat tinggi. Setelah kegagalan di percobaan pertama—yang disebabkan oleh alat toilet training yang terlalu tipis dan tidak kuat menopang berat badan Rambo yang mencapai enam kilogram—ia memutuskan untuk berinvestasi pada alat yang lebih mahal dan kokoh.

Toilet training kit terbaru yang digunakan ini mengklaim bisa melatih kucing menggunakan toilet dalam waktu dua hingga tujuh minggu. Di dalam kotaknya terdapat beberapa ring (cincin) plastik yang bisa dipotong sedikit demi sedikit untuk membiasakan kucing buang air tepat ke lubang toilet.

Skip Langkah Pertama, Langsung ke Inti Pelatihan

Secara umum, toilet training terdiri dari tiga langkah. Langkah pertama adalah memindahkan litter box ke sebelah toilet selama satu minggu. Namun karena posisi litter box Rambo sudah dekat dengan toilet, sang pemilik memutuskan langsung ke langkah kedua: memasang alat toilet training di atas kloset.

Alat tersebut dipasang dengan isi litter di atasnya—campuran antara pasir bersih dan bekas litter milik Rambo, agar ia tidak kaget dengan aroma baru.

Hari Pertama dan Kedua: Tantangan Awal

Selama 24 jam pertama, Rambo sama sekali menolak menggunakan toilet barunya. Ia terlihat kebingungan dan tidak nyaman, bahkan tidak buang air sama sekali. Namun pada hari kedua, Rambo akhirnya mulai mencoba—sebuah kemajuan besar yang membangkitkan optimisme.

Minggu Pertama: Adaptasi dan Pekerjaan Ekstra

Meski sudah mulai terbiasa, minggu pertama tetap penuh tantangan. Setiap kali Rambo buang air, ia cenderung mengais litter hingga berhamburan ke lantai. Sang pemilik harus menyapu dua hingga tiga kali per hari, agar Rambo tidak terbiasa melihat lantai sebagai tempat buang air alternatif.

Selain itu, alat toilet training juga harus dibersihkan setiap kali digunakan, membuat minggu pertama terasa cukup melelahkan.

Minggu Kedua dan Ketiga: Harapan Mulai Tumbuh

Memasuki minggu kedua, intensitas membersihkan mulai berkurang. Rambo terlihat lebih nyaman, dan dua ring pertama sudah dilepas dari alat toilet training, membuat lubang toilet semakin terbuka.

Pada minggu ketiga, Rambo tampak sudah ahli. Ia buang air tanpa membuang litter sembarangan, dan pemiliknya mulai percaya diri bahwa proses toilet training ini akan berhasil sempurna.

Minggu Keempat: Kemunduran yang Mengejutkan

Namun optimisme itu sirna di minggu keempat. Setelah cincin terakhir dilepas, lubang toilet menjadi sangat terbuka. Hal ini membuat Rambo berhenti buang air besar di toilet. Ia hanya mau buang air kecil, sedangkan untuk pup, ia menahannya, bahkan mengeong keras karena stres.

Kondisi ini berlangsung selama satu minggu penuh. Pemilik berharap Rambo akan kembali terbiasa, namun yang terjadi justru sebaliknya. Stres Rambo meningkat, ia terlihat tidak nyaman setiap kali ingin buang air.

Keputusan Sulit: Kembali ke Litter Box

Melihat Rambo stres dan mulai menghindari toilet, sang pemilik akhirnya mengambil keputusan berat: menghentikan toilet training dan mengembalikan litter box ke tempat semula.

Meskipun merasa kecewa karena waktu empat minggu terasa sia-sia, ia tetap menyarankan toilet training sebagai opsi untuk pemilik kucing lain—dengan catatan bahwa hasilnya bisa sangat bergantung pada karakter dan kenyamanan kucing masing-masing.

Worth It atau Tidak?

Jadi, apakah toilet training kucing itu layak dicoba? Jawabannya: Ya, tapi dengan ekspektasi yang realistis.

Tidak semua kucing cocok dengan metode ini. Beberapa mungkin sukses dalam waktu singkat, sementara yang lain bisa mengalami stres berkepanjangan. Yang terpenting adalah memahami sinyal dan batas kenyamanan kucing. Jangan paksakan metode yang justru membuat kucing tidak nyaman atau bahkan trauma.

Jika kamu punya kucing yang penasaran, mudah beradaptasi, dan tidak mudah stres, toilet training bisa jadi solusi jangka panjang yang menguntungkan. Namun, jika kucingmu tipe sensitif seperti Rambo, ada baiknya tetap menggunakan litter box konvensional demi kesejahteraan si kucing.

Tips Sebelum Mencoba Toilet Training Kucing:

  1. Gunakan alat berkualitas yang kokoh dan sesuai berat badan kucing.

  2. Amati reaksi kucing di minggu pertama untuk melihat kecocokan.

  3. Bersihkan secara rutin agar kucing tidak mencari tempat lain.

  4. Jangan paksa proses, setiap kucing punya ritme adaptasi berbeda.

  5. Siapkan opsi mundur seperti litter box jika terlihat stres.

Toilet training kucing memang menggoda karena manfaatnya luar biasa. Tapi seperti semua pelatihan, hasilnya bergantung pada pendekatan dan kesabaran pemilik—serta kesiapan mental si kucing.

Kalau kamu ingin mencoba sendiri, pastikan kamu siap dengan segala kemungkinan. Siapa tahu, justru kucingmu jadi bintang di kamar mandi!

Editor : Jauhar Yohanis
#kucing #bab #toilet training