Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Kangen Masa Remaja? Ini 6 Novel Coming of Age Paling Ikonik yang Wajib Kamu Baca Ulang!

Internship Radar Kediri • Selasa, 22 Juli 2025 | 18:30 WIB
Sampul Buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata
Sampul Buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata

JP Radar Nganjuk — Kalau kamu sedang rindu masa sekolah, ingin tenggelam dalam kisah persahabatan, cinta pertama, hingga pahit manis kegelisahan remaja, deretan novel coming of age ini siap bikin kamu nostalgia total.

Dari The Perks of Being a Wallflower yang bikin kita flashback ke tahun 90-an, Looking for Alaska yang sarat misteri dan tawa getir, hingga Laskar Pelangi yang membangkitkan semangat mimpi anak desa, semua kisahnya akan membuatmu teringat betapa indah, rumit, sekaligus berartinya masa tumbuh dewasa.

Perks of Being a Wallflower — Stephen Chbosky

Merupakan novel coming of age ikonik yang membawa kita bernostalgia ke awal 90-an lewat kisah Charlie, remaja pendiam yang menulis surat tentang pergulatannya menjalani tahun pertama SMA di pinggiran Pittsburgh. 

Baca Juga: 5 Novel Romantis Paling Baper yang Bisa Kamu Habiskan Sekali Duduk, Dijamin Bikin Nangis!

Novel ini membahas tema remaja yang penuh gejolak, mulai dari seksualitas, penggunaan narkoba, trauma keluarga, hingga kesehatan mental, sambil menampilkan referensi sastra, film, dan budaya pop klasik. 

Berteman dengan Patrick dan Sam, dua senior yang membawanya keluar dari tempurung, Charlie melewati momen-momen pahit, manis, dan kelam, termasuk penemuan masa lalu kelam tentang pelecehan oleh bibinya yang membentuk cara pandangnya tentang cinta dan hidup. 

Baca Juga: Butuh Healing? Ini Rekomendasi Novel Feel Good Biar Pikiran Adem Lagi

Lewat perjalanan Charlie, The Perks of Being a Wallflower mengingatkan kita bahwa meski tak bisa memilih asal kita, kita tetap bisa memilih ke mana kita melangkah, dan bagaimana kita ‘berpartisipasi’ dalam hidup.

Looking for Alaska — John Green

Merupakan novel coming of age legendaris yang terinspirasi dari masa SMA penulisnya di sekolah asrama Indian Springs, mengisahkan Miles “Pudge” Halter yang pindah ke Culver Creek Prep School demi mencari “Great Perhaps” seperti kata-kata terakhir François Rabelais. 

Bersama sahabat barunya, The Colonel, Takumi, dan gadis karismatik Alaska Young, Miles melewati masa remaja penuh tawa, cinta, pesta, dan pemberontakan, sebelum tragedi kematian Alaska membalikkan segalanya.

Baca Juga: Rekomendasi Novel Indie Anti Mainstream: Ceritanya Berbeda, Bikin Kamu Lupa Bacaan Pasaran!

Lewat pencarian jawaban atas misteri malam kematian Alaska, novel ini mengaduk tema kehilangan, rasa bersalah, cinta platonik, dan makna hidup, dibungkus humor pahit khas John Green. 

Looking for Alaska jadi bacaan wajib buat siapa pun yang ingin bernostalgia dengan pahit-manisnya masa muda dan pertanyaan tentang bagaimana cara keluar dari labirin kehidupan?

Norwegian Wood — Haruki Murakami

Novel ini mengajak kita bernostalgia lewat kisah Miles “Pudge” Halter, remaja yang pindah ke sekolah asrama Culver Creek untuk mencari “Great Perhaps” seperti kata-kata terakhir François Rabelais. 

Baca Juga: Membaca Novel Ternyata dapat Tingkatkan Kecerdasan Emosional, Mitos atau Fakta?

Bersama Colonel, Takumi, dan Alaska Young yang karismatik sekaligus rapuh, Miles mengalami persahabatan, cinta diam-diam, pesta nakal, hingga tragedi kematian Alaska yang memaksanya menelusuri misteri, rasa bersalah, dan makna “labirin penderitaan” dari kata-kata Simón Bolívar. Sarat tema kehilangan, penebusan, dan makna hidup, menjadikan novel ini sebagai bacaan yang ikonik.

Laskar Pelangi — Andrea Hirata

Laskar Pelangi karya Andrea Hirata adalah novel coming of age legendaris Indonesia yang bercerita tentang sepuluh anak miskin di Desa Gantung, Belitung Timur, yang gigih menempuh pendidikan di sekolah Muhammadiyah dengan segala keterbatasan. 

Baca Juga: Membaca Buku di Era Digital, Menemukan Ketenangan yang Hilang

Menyebut diri mereka Laskar Pelangi karena kecintaan pada pelangi, Ikal, Lintang, Mahar, dan kawan-kawannya melewati suka duka mulai dari perjuangan menyelamatkan sekolah, kenakalan masa kecil, cinta pertama, hingga kemenangan mengharumkan nama sekolah lewat lomba karnaval dan cerdas cermat. 

Dibalut kisah persahabatan, mimpi, pengorbanan, dan tawa-tangis masa remaja, Laskar Pelangi tak hanya menginspirasi banyak orang tetapi juga sukses diadaptasi ke film dan teater, menjadikannya bacaan wajib kalau kamu ingin nostalgia dengan semangat polos masa kecil yang penuh mimpi besar.

A Tree Grows in Brooklyn — Betty Smith

Novel semi-autobiografi ikonik yang menggambarkan masa tumbuh kembang Francie Nolan, seorang gadis cerdas dari keluarga imigran miskin di Brooklyn awal abad ke-20, yang berjuang menembus kerasnya hidup dengan tekad, mimpi, dan cinta pada buku. 

Baca Juga: Kangen Traveling? 5 Film Road Trip Ini Dijamin Bikin Kamu Pengen Langsung Angkat Koper!

Di tengah kemiskinan, ayah yang pemimpi sekaligus pemabuk, ibu yang keras demi bertahan hidup, dan dinamika keluarga yang rumit, Francie tumbuh layaknya pohon Ailanthus alias Tree of Heaven yang tak bisa dibunuh di sudut gang Brooklyn, tangguh dan terus hidup meski berkali-kali ditebas. 

Lewat perjuangan meraih pendidikan, pahit manis cinta pertama, hingga pengorbanan keluarga, novel ini menegaskan betapa pentingnya harapan dan ketekunan untuk meraih mimpi, menjadikannya bacaan coming of age yang abadi untuk dinikmati siapa saja yang ingin nostalgia akan masa remaja penuh asa.

The Catcher in the Rye — J.D. Salinger

Novel ini membangkitkan kenangan remaja lewat sosok Holden Caulfield, ikon pemberontakan anak muda yang muak dengan kemunafikan dunia orang dewasa. 

Baca Juga: 6 Film Feminisme Modern Ini Berani Bongkar Patriarki dan Wajib Ditonton Generasi Muda!

Lewat perjalanan liar Holden di New York usai dikeluarkan dari sekolah, pembaca diajak menelusuri kegelisahan, kerinduan akan kepolosan, pergulatan identitas, dan pencarian arti hidup di sela percakapan sarkastik, kenangan pahit, dan momen tulus bersama adiknya, Phoebe. 

Dengan kritik tajam pada kepalsuan sosial dan tema kebebasan yang abadi, novel ini terus hidup di hati generasi pembaca yang ingin bernostalgia ke masa-masa pencarian jati diri di tengah dunia yang membingungkan.

Baca Juga: Rekomendasi Film 90-an yang Masih Seru Ditonton Ulang Buat Nostalgia

Tak peduli di mana kamu membaca, di kamar, di kafe, atau di sela perjalanan pulang, keenam novel legendaris ini selalu punya cara mengingatkan kita pada fase rapuh sekaligus indah bernama masa remaja. 

Jadi, sudah siap nostalgia dan menemukan potongan dirimu di antara halaman-halaman buku ikonik ini? Yuk, pilih judul favoritmu, buka lembar pertamanya, dan rasakan lagi degupnya masa muda yang tak akan pernah benar-benar hilang!

Penulis: Dania Karlita Ningsih Mahasiswa Magang Universitas Brawijaya

Editor : Miko
#Rekomendasi Buku #remaja #persahabatan #nostalgia #sekolah