JP Radar Nganjuk - Siapa bilang musik hanya bisa dinikmati lewat telinga? Bagi komunitas Tuli, musik bisa dirasakan lewat tubuh, dilihat melalui gerakan, bahkan dihayati melalui bahasa isyarat.
Sayangnya, hingga kini anggapan bahwa Tuli “tidak bisa menikmati musik” masih jadi persepsi umum. Sebuah pemahaman yang salah kaprah dan penuh diskriminasi.
Dalam konstruksi umum, musik dianggap sebagai produk untuk didengar. Padahal, bagi teman Tuli, suara bukan satu-satunya jalan untuk menikmati karya seni ini. Justru, persepsi seperti ini telah lama meminggirkan eksistensi mereka dari dunia musik.
Tak Sekadar Tuli, Tapi Tuli yang Berkebudayaan
Ada dua istilah yang sering disalahpahami publik: tuli (huruf kecil) dan Tuli (dengan huruf kapital). Menurut studi Deaf Studies, Tuli merujuk pada identitas budaya, orang-orang yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan memiliki kultur tersendiri, termasuk dalam bermusik. Sementara tuli hanya merujuk pada kondisi fisik pendengaran.
Meski banyak Tuli tidak memiliki pendengaran penuh, mereka tetap bisa menikmati dan menciptakan musik. Bukan melalui suara, tapi lewat getaran, gerakan, ekspresi wajah, hingga pengalaman tubuh, inilah hal yang disebut keragaman aural.
Musik Bagi Tuli: Gerak, Getar, dan Visual
Menurut Joseph Straus (2011), pengalaman musik bagi Tuli mencakup empat aspek: feeling (merasakan getaran), seeing (melihat gerakan visual), moving (bergerak mengikuti irama), dan silent hearing (pendengaran batin).
Dalam budaya Tuli, musik hadir dalam bentuk yang unik dan personal. Saat mendengarkan musik, tubuh mereka ibarat membran yang merasakan setiap getaran. Saat konser, mereka melambaikan tangan mengikuti irama, jadi bukan berteriak, tapi berekspresi lewat gerak.
Kisah Nyata dalam Film Labyrinth
Sebuah dokumenter pendek berjudul Labyrinth memperlihatkan pengalaman musikal Tuli. Dimulai dari seorang pria Tuli yang bernyanyi dan menari, film ini menghadirkan sembilan individu Tuli yang membagikan kisah mereka menikmati, bahkan menciptakan musik.
Baca Juga: Gaya Outdoor Rasa Urban: Tas Eiger vs Rei, Ini Pilihan Favorit Gen Z
Ada yang merasakan getaran dari lantai kayu, mengolah ritme dari tenggorokan lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa isyarat, hingga membuat gerakan liris yang mengiringi lagu. Musik menjadi tempat pelarian dari patah hati, stres, hingga menjadi ruang ekspresi yang menyenangkan.
Musisi Tuli yang Bersuara Lantang
Di Amerika Serikat, ada Warren Snipes alias Wawa yang sukses menggebrak industri musik sebagai musisi Tuli. Ia bahkan menggagas genre deaf hop, genre musik yang mengandalkan gerak tubuh dan bahasa isyarat. Sementara di Afrika, MC Baba menjadi rapper Tuli pertama yang menciptakan ritme tanpa suara.
Mereka bukan sekadar bermusik, tapi juga menantang persepsi bahwa Tuli “tidak layak” berada di industri hiburan.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia masih tertinggal soal inklusivitas musik bagi Tuli. Memang, sudah ada beberapa langkah, seperti video bahasa isyarat di lagu Sampai Jumpa milik Endank Soekamti dan Merakit dari Yura Yunita. Ada juga musisi dan peneliti Jay Afrisando yang terus memperjuangkan musik inklusif.
Namun secara umum, konser dan festival musik di Indonesia masih jarang melibatkan Juru Bahasa Isyarat (JBI). Padahal, respons Teman Tuli sangat positif setiap kali ada penyertaan bahasa isyarat dalam acara musik.
Seperti konser Mengudara dari Idgitaf dan Pesta Rakyat Unpad 2022 yang sukses menyedot antusiasme ratusan penonton Tuli.
Saatnya Ubah Paradigma
Musik tidak melulu soal suara. Bagi Tuli, musik adalah pengalaman visual, emosional, bahkan spiritual. Dengan teknologi dan pemahaman budaya yang terus berkembang, saatnya industri musik di Indonesia membuka ruang yang inklusif.
Mulai dari menghadirkan JBI, visualisasi lirik, hingga menciptakan ruang pertunjukan yang ramah terhadap pengalaman musikal Tuli. Karena musik, sejatinya, adalah milik semua.
Penulis: Marta - Mahasiswa Magang UIN Sunan Ampel Surabaya
Editor : Miko