JP RADAR NGANJUK - Banyak orang menanggap eksistensi karya sastra hanya sekadar hiburan semata. Saat mendengar karya sastra orang langsung berfikir tentang buku yang laris, puisi yang manis, atau cerpen viral yang bikin menangis. Jarang ada yang bertanya, karya sastra itu untuk apa sih? Padahal, di balik halaman-halamannya karya sastra memegang peranan yang jauh lebih besar.
Pisau tipis untuk melawan
Karya sastra merupakan ruang kecil tapi powerfull untuk bersuara. Dahulu para sastrawan bersuara untuk bangsa, bersuara untuk rakyat. Hilangnya para sastrawan dan dilarangnya buku-buku Pram pada zaman itu merupakan bukti bahwa tulisan memiliki kekuatan besar untuk melawan.
Kartu memori abadi untuk merekam realitas sosial
Banyak karya sastra yang merekam keadaan masyarakat pada masanya. Misalnya, novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Novel "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata memiliki dampak signifikan, meliputi peningkatan minat baca, perubahan paradigma tentang pendidikan, terutama di daerah terpencil, dan transformasi Belitung menjadi daerah tujuan wisata yang popular. Sastra membuktikan bahwa sederet tulisan bisa mengubah nasib seluruh bangsa.
Melatih berempati
Membaca cerita orang lain membuat kita memahami perasaan yang belum pernah kita alami. Saat membaca kisah korban perang, pekerja migran, atau anak jalanan, kita belajar merasakan penderitaan mereka. Inilah kekuatan sastra yang sering terlupakan.
Menjaga warisan budaya
Cerita rakyat, pantun, geguritan, atau cerpen berbahasa daerah adalah warisan budaya yang dijaga lewat sastra. Dengan membacanya, kita ikut melestarikan identitas dan bahasa yang mungkin tergerus zaman.
Tidak hanya sebagai hiburan, karya sastra memiliki peran yang lebih jauh dari itu. Membaca karya sastra dapat membuka mata untuk melihat dunia, dan menulis karya sastra adalah salah satu upaya untuk mengubah dunia.
Widia Isnaini Rochmatun Nikmah – Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira