JP RADAR NGANJUK- Apa kamu pernah merasa cemas atau gelisah saat ponsel tertinggal di rumah, baterainya habis, atau sinyal tiba-tiba hilang? Kalau iya, bisa jadi kamu mengalami gejala nomophobia.
Istilah nomophobia berasal dari "no mobile phone phobia", atau bisa disebut ketakutan irasional atau kecemaasn yang berlebihan saat terpisah dari ponsel atau ketergantungan yang berlebihan terhadap ponsel.
Baca Juga: Sering Cemas Berlebihan? Kenali Anxiety dan Cara Sederhana untuk Meredakannya
Meskipun belum dikategorikan sebagai gangguan mental resmi, banyak ahli menyebut ini sebagai bentuk kecanduan digital yang mulai mengganggu keseharian.
Gejalanya bisa berupa perasaan panik ketika ponsel tertinggal, selalu mengecek notifikasi padahal tidak ada, merasa “kosong” tanpa akses ke media sosial, hingga sulit fokus saat ponsel tidak berada di dekat.
Fenomena ini makin marak sejak aktivitas digital meningkat, baik karena pekerjaan, hiburan, maupun kebutuhan sosial. Sayangnya, jika dibiarkan, nomophobia bisa menurunkan produktivitas, mengganggu tidur, dan membuat seseorang kurang hadir dalam kehidupan nyata.
Baca Juga: Mengenal Burnout dan Cara Mengatasinya, Saat Lelah Tak Kunjung Usai dan Berakhir Berkepanjangan
Lalu, bagaimana mengatasinya?
Langkah sederhana seperti membatasi screen time, membuat jadwal “detoks digital”, atau menonaktifkan notifikasi tak penting bisa jadi solusi awal.
Meningkatkan interaksi langsung dengan orang sekitar juga membantu membangun keseimbangan antara dunia digital dan nyata.
Mengakui bahwa ponsel penting memang wajar. Namun, jika mulai merasa tidak bisa hidup tanpanya, bisa jadi sudah waktunya untuk mengevaluasi kembali hubungan kita dengan gadget.
Baca Juga: Capek Kerja? Ini 5 Tempat Healing di Semarang yang Bikin Pikiran Adem
Penulis: Sabilatul Nur Hartanti- Mahasiwa UIN SATU Tulungagung
Editor : Jauhar Yohanis