Kucing-kucing yang kesepian dan selalu diperlakukan buruk. Ditendang dengan kencang sampai menyusut perutnya hanya karena ia berusaha bertahan hidup dan mencari makan. Aku melihat ada aku dalam diri mereka. Terlantar, kesepian, dan tidak dipedulikan (Khrisna, 2025).
JP RADAR NGANJUK- Novel Seporsi Mie ayam Sebelum Mati Karya Brian Khrisna bukan hanya cerita fiksi tentang keinginan mengakhiri hidup. Novel ini menghadirkan potret realitas sosial yang begitu dekat namun sering luput dari perhatian banyak orang.
Lewat tokoh Ale pembaca diajak menyelami luka mengenai hinaan, dipandang rendah, dan tumbuh dalam lingkungan yang lebih sering menghakimi daripada memahami. Ale membuat pembaca ikut merasakan perasaan dibuang, tidak berharga, kesepian, dan tidak dipedulikan.
Ale digambarkan sebagai sosok yang tidak sesuai standar sosial. Tubuhnya besar, kulitnya gelap, dan sering dijadikan bahan olok-olokan. Ia tidak hanya mengalami bullying verbal di sekolah, tapi juga di lingkungan kerja. Bahkan, keluarganya sendiri tak pernah benar-benar hadir untuknya. Lewat tokoh Ale novel ini mengungkap bahwa luka yang ditimbulkan oleh lingkungan sosial dapat mengakibatkan kelelahan mental yang merujuk pada tindakan bunuh diri.
1. Bullying dan Kekerasan Verbal
Sejak kecil, Ale menerima perlakuan yang menyakitkan dari orang-orang sekitarnya. Panggilan seperti "genderuwo", "babon", bahkan dibandingkan dengan karakter viral Wagini sudah biasa diterima Ale. Semua karena tubuhnya yang besar dan penampilannya yang tidak sesuai "standar".
Di sekolah, di kantor, bahkan di dunia maya, tubuh Ale selalu jadi bahan candaan. Sayangnya, canda yang terus-menerus justru jadi luka yang dalam. Depresi pertamanya tumbuh bukan karena masalah hidup yang besar, tapi karena kata-kata yang terus diulang.
1. Tekanan dari Keluarga
Alih-alih menjadi tempat pulang, keluarga justru menjadi sumber luka lainnya. Ale tidak pernah dipuji, hanya dituntut. Ia diminta cepat menikah, diminta terus mengirim uang, dan selalu dibandingkan dengan adiknya yang "lebih berhasil". Ketika ia tidak pulang selama enam hari, ibunya bahkan tidak sadar.
2. Toxic masculinity
Ale tumbuh sebagai laki-laki yang dilarang menunjukkan emosi. Menangis dianggap lemah. Bercerita dianggap tidak jantan.
3. Ketimpangan Sosial dan Kekerasan Aparat
Dalam satu adegan, Ale ditangkap polisi tanpa alasan jelas. Ia dipukuli, dilecehkan secara fisik, bahkan dibandingkan dengan ayam yang hendak disembelih. Di penjara, ia menyaksikan bagaimana hukum bisa dibeli, dan bagaimana warga biasa menjadi korban permainan sistem.
Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati adalah Fiksi, tapi lukanya nyata. Sebelum ada Ale kedua yang menyerah dalam diam, kita bisa memulai langkah kecil untuk lebih peka dan peduli terhadap orang sekitar dengan karakter seperti Ale. Ale sudah membuktikan, sapaan hangat di pagi hari dapat mencegah seseorang untuk mengambil tindakan bunuh diri.
Widia Isnaini Rochmatun Nikmah - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Miko