Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Paniki: Rasa Ekstrem dari Dapur Minahasa

Internship Radar Kediri • Rabu, 13 Agustus 2025 | 18:00 WIB
Paniki
Paniki

JP RADAR NGANJUK-Indonesia dikenal dengan ragam kulinernya yang kaya rasa, berani bumbu, dan penuh cerita. Tapi di antara ratusan bahkan ribuan sajian khas Nusantara, ada satu hidangan dari Sulawesi Utara yang kerap memancing rasa penasaran sekaligus keraguan.

 Baca Juga: Social Satiation: Kenapa Tubuh Bisa ‘Kenyang Sosial’?

Kalau kamu pikir kuliner Nusantara cuma soal sambal, rendang, dan sate, kamu perlu melirik ke Minahasa, Sulawesi Utara. Di sana, ada satu hidangan yang bikin banyak orang melongo sekaligus penasaran: paniki, alias masakan dari daging kelelawar.

Tenang dulu bukan kelelawar vampir, ya. Paniki biasanya dibuat dari kelelawar pemakan buah (megabat), yang dipercaya punya rasa gurih dan tekstur unik.

Bagi masyarakat Minahasa, paniki bukan makanan ekstrem. Ini bagian dari budaya, tradisi, dan cara mereka hidup berdampingan dengan alam. Hidangan ini biasa disajikan saat acara adat, perayaan keluarga, atau momen spesial lainnya.

 Baca Juga: 5 Rekomendasi Novel untuk Belajar Sejarah Indonesia

Dari Hutan ke Meja Makan: Proses Memasak Paniki

Sebelum dimasak, daging kelelawar dibakar utuh untuk menghilangkan bulunya, sekaligus untuk mengurangi aroma menyengat. Setelah dibersihkan, daging dipotong kecil dan dimasak dengan bumbu khas Minahasa seperti rica-rica kombinasi cabai, bawang merah, bawang putih, jahe, dan daun jeruk.

Ada juga versi yang dimasak dengan santan, menghasilkan rasa pedas gurih yang lebih dalam. Tekstur daging kelelawar cukup kenyal dan berserat. Jika dimasak dengan benar, daging ini bisa sangat lezat karena menyerap bumbu dengan kuat.

 Baca Juga: Berkendara Aman dan Tertib, Kunci Keselamatan di Jalan

Beberapa penelitian mengaitkan kelelawar dengan risiko zoonosis (penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia). Meski banyak yang meragukan keamanan konsumsi satwa liar, masyarakat lokal sudah punya cara turun-temurun untuk mengolahnya. Mereka percaya, kalau dimasak sampai matang dengan cara tradisional, paniki aman dikonsumsi.

Fun fact: Dalam bahasa Minahasa, "paniki" memang berarti kelelawar. Dan kalau kamu berkunjung ke Pasar Tomohon, kamu bisa menemukan paniki dijual berdampingan dengan daging ular, tikus hutan, bahkan anjing semuanya dianggap bagian dari kuliner lokal yang sah-sah saja.

 

Melanie Putri Devianasari-Mahasiswa UN PGRI Kediri

Editor : Jauhar Yohanis
#Olahan #makanan khas #manado #Paniki #kelelawar #tradisi #budaya