Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Sima: Cerpen Karya Sasti Gotama yang Menggugat Penindasan dan Perampasan Kebebasan

Internship Radar Kediri • Rabu, 13 Agustus 2025 | 16:00 WIB
Roemina dan Sima
Roemina dan Sima

JP RADAR NGANJUK-Cerpen ini berlatar di Kadiri pada 1895 dan mengisahkan tentang Roemina, perempuan yang memperjuangkan kebebasan untuk dirinya. Di tengah bayang-bayang perkebunan tebu dan kekuasaan kolonial, Roemina bertemu seekor harimau Jawa yang terluka parah. 

Hewan itu, yang kemudian ia beri nama Sima, awalnya mengaku hanya “kucing” karena sejak kecil dilatih untuk jinak, makan nasi dan ikan pindang, dan tak berani menunjukkan naluri buasnya. Roemina merawat Sima, mengajarinya kembali menjadi pemangsa, hingga luka dan nalurinya pulih.

Baca Juga: Wow! Ternyata Daun Pandan Bisa Bikin Tubuh Sehat dan Awet Muda, Jangan Sampai Lewatkan Khasiat Rahasianya!

Kisah ini tak hanya bercerita tentang pertemuan manusia dan hewan. Roemina, seorang perempuan yang dijadikan gundik oleh tuan tanah Belanda, sebenarnya melihat dirinya di dalam Sima. 

Ia pernah “dijinakkan” oleh lelaki, dari mantan suami yang menipunya hingga majikan yang mengatur hidupnya. Sama seperti Sima yang dipaksa melupakan jati dirinya sebagai harimau, Roemina pun dipaksa meninggalkan kebebasannya sebagai perempuan.

Baca Juga: Our Golden Days: Drama Korea Baru yang Bikin Nangis di Tiap Episode, Rating Perdana Langsung Meroket!

Namun, hubungan mereka singkat. Saat Sima harus kembali ke hutan, kabar buruk datang: seekor harimau Jawa tertangkap untuk diadu mati dalam rampogan sima di alun-alun Kadiri. Harimau itu ternyata Sima. 

Di tengah riuh sorak penonton, Sima bertarung sengit. Dalam auman terakhirnya sebelum melarikan diri, Sima berpesan di kepala Roemina: “Roemina, kamu pun Sima. Lari! Lari!” Pesan itu menjadi momen pencerahan—Roemina pun memilih meninggalkan kerumunan, menghilang, mencari kebebasannya sendiri.

Baca Juga: Sakamoto Days: Kisah Mantan Pembunuh Bayaran Jadi Pemilik Toko

Cerpen Sima karya Sasti Gotama bukan hanya kisah pertemuan antara manusia dan hewan. Ia memuat simbolisme kuat tentang kekuatan, harga diri, dan kebebasan yang dibatasi.

Harimau di sini adalah cermin bagi Roemina. Keduanya pernah liar, keduanya pernah bebas, lalu dipaksa tunduk oleh kekuasaan. Proses Roemina mengajari Sima berburu menjadi simbol kebangkitan kesadaran diri, bahwa kebebasan merupakan sesuatu yang harus direbut kembali.

Baca Juga: Burung Maleo: Si Penjelajah Pasir Unik dari Sulawesi yang Terancam Punah

Latar kolonial menambah lapisan makna. Roemina berada di persimpangan dua penindasan sekaligus: patriarki dan kolonialisme. Hubungannya dengan Sima memperlihatkan bahwa penjinakan bukan hanya berlaku pada hewan, tetapi juga pada manusia, terutama perempuan yang berada dalam relasi kuasa timpang.

Kalimat terakhir Sima bahwa Roemina juga sima menjadi seruan kebebasan yang melampaui zamannya. Pesan ini relevan hingga hari ini, ketika banyak perempuan masih terjebak dalam hubungan abusive, tekanan sosial, atau diskriminasi. 

Baca Juga: “Terbuang dalam Waktu”: Lagu Sendu yang Menyatu dengan Film Sore

Ia mengajak pembaca untuk menyadari naluri kebebasan yang melekat, sekaligus mengingatkan bahwa kekuatan itu bisa hilang jika dibiarkan mati, sebagaimana harimau Jawa yang kini punah di alam liar.

Lewat cerpen Sima, Sasti Gotama menghadirkan kisah yang memadukan realitas sejarah dan simbolisme personal. Cerpen ini tak sekadar hiburan sastra, tetapi juga peringatan agar setiap orang, terutama perempuan, berani memperjuangkan kebebasan mereka sendiri.

Baca Juga: Apa Itu Nomophobia? Ketika Jauh dari HP Bikin Gelisah, Ini Tanda & Cara Mengatasinya


Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

Editor : Jauhar Yohanis
#patriarki #SASTI GOTAMA #penindasan #harimau #sima #kebebasan #cerpen