Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Thread Twitter/X: Cerita yang Hidup di Timeline

Internship Radar Kediri • Jumat, 15 Agustus 2025 | 21:13 WIB
Logo Aplikasi Twitter/X
Logo Aplikasi Twitter/X

JP RADAR NGANJUK-Storytelling atau seni bercerita kini tak hanya hadir di buku, panggung, atau layar lebar. Di era digital, media sosial menjadi ruang baru bagi para penulis untuk berbagi cerita. Salah satunya adalah platform Twitter, atau yang kini dikenal sebagai X. 

Melalui format thread, penulis dapat merangkai kisah menjadi rangkaian cuitan yang saling terhubung, membentuk narasi panjang yang memikat pembaca.

Baca Juga: Kenali Istilah Brainrot dan Dampaknya Bagi Otak

Fenomena thread cerita ini mulai populer sejak beberapa tahun lalu. Penulis hanya perlu memulai dengan satu cuitan pembuka yang menarik, seringkali berupa kalimat pemancing seperti “Kalian nggak akan percaya apa yang aku alami kemarin…”—lalu melanjutkan kisahnya dalam balasan demi balasan. Pembaca tinggal menggeser layar untuk mengikuti alur cerita layaknya membaca buku bab demi bab.

Keunggulan thread adalah kemudahannya menjangkau banyak orang. Siapa pun bisa menjadi penulis, tanpa perlu penerbit atau editor. Cerita bisa berupa kisah nyata, fiksi horor, drama percintaan, hingga misteri yang dibangun perlahan. Bahkan, banyak thread viral yang kemudian diadaptasi menjadi film pendek, podcast, atau novel.

Baca Juga: Menu Sehat ala Jepang untuk Anak: Nutrisi Lengkap dalam Porsi Mini

Fenomena ini memunculkan beragam interpretasi. Ada yang melihat thread sebagai bentuk sastra modern yang lebih demokratis. Menulis dan membaca menjadi lebih cepat, interaktif, dan dekat dengan pembaca. Penulis bisa mendapatkan respons instan, melihat komentar, atau bahkan mengubah alur cerita berdasarkan masukan pembaca.

Namun di luar pro dan kontra, thread di Twitter/X juga mengubah cara orang membangun cerita. Alur yang dipotong menjadi fragmen-fragmen singkat membuat pembaca terbiasa mencerna narasi secara cepat. Hal ini menciptakan tantangan baru: penulis harus mampu menjaga ketegangan di setiap potongan cerita, sekaligus memastikan pembaca tetap mengikuti sampai akhir.

Baca Juga: Manfaat Air Cucian Beras untuk Wajah: Mencerahkan, Mengencangkan, dan Bikin Awet Muda

Thread juga melahirkan arsip digital sastra yang unik. Cerita tidak lagi hanya tersimpan dalam buku atau file pribadi, tetapi terpublikasi, terdokumentasi, dan bisa diakses kapan saja. Ini berarti, karya sastra masa kini tidak hanya meninggalkan jejak dalam bentuk teks, tetapi juga dalam interaksi—like, retweet, dan komentar yang ikut membentuk makna.

Meski formatnya berbeda dari novel atau cerpen konvensional, thread menunjukkan bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi, kebutuhan manusia untuk bercerita tetap sama: mencari perhatian, berbagi pengalaman, dan membangun koneksi. Bedanya, kini semua itu bisa dilakukan dalam genggaman, satu cuitan demi satu cuitan.

Baca Juga: Berkendara Aman dan Tertib, Kunci Keselamatan di Jalan

 

Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

Editor : Jauhar Yohanis
#timeline #Cerita #aplikasi x #modern #digitalisasi #thread #twitter #Bercerita #storytelling #curhat