JP RADAR NGANJUK-Di era serba digital ini, kita semakin akrab dengan istilah digital hoarding — kebiasaan menumpuk file, foto, video, atau dokumen digital tanpa pernah benar-benar memilah atau menghapusnya. Fenomena ini seolah menjadi versi modern dari penimbunan barang fisik, hanya saja wujudnya tersembunyi di balik memori ponsel, laptop, maupun layanan cloud.
Bagi sebagian orang, digital hoarding dimulai dari hal sederhana. Misalnya, menyimpan ribuan foto yang hampir serupa, menumpuk screenshot yang jarang kembali dibuka, atau membiarkan file pekerjaan lama menumpuk tanpa pernah dihapus. Alasan utamanya beragam, mulai dari takut kehilangan kenangan, merasa suatu saat akan butuh, hingga sekadar malas untuk merapikan.
Dampaknya ternyata tidak sepele. Penimbunan digital bisa membuat perangkat jadi penuh dan lemot, bahkan menambah biaya jika harus berlangganan ruang penyimpanan ekstra di layanan cloud. Selain itu, kondisi ini juga bisa memicu rasa cemas. Setiap kali melihat notifikasi storage full, kita sadar bahwa kebiasaan menimbun file digital sebenarnya bisa mengganggu keseharian.
Fenomena ini pun mulai dilihat dari sisi psikologis. Para ahli menyebut, kebiasaan digital hoarding mirip dengan perilaku hoarding disorder pada barang fisik, di mana ada keterikatan emosional terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak lagi berguna. Bedanya, dalam ranah digital, orang sering tidak sadar bahwa mereka sedang “menimbun” karena semuanya tidak terlihat secara kasat mata.
Namun, tidak semua dampaknya negatif. Menyimpan data digital juga bisa jadi upaya melestarikan memori, seperti album foto keluarga, catatan penting, hingga karya kreatif. Tantangannya adalah bagaimana agar kebiasaan menyimpan ini tetap sehat, tidak berubah menjadi beban.
Baca Juga: Menghindari Masalah di Media Sosial: Panduan Etika Digital yang Wajib Diketahui
Solusinya sederhana tapi butuh konsistensi. Melakukan digital decluttering secara rutin, memilah file yang benar-benar penting, hingga membiasakan diri menyimpan data di tempat yang terorganisasi bisa membantu. Sama seperti rumah yang butuh dirapikan, ruang digital kita pun sesekali harus dibersihkan agar lebih lega dan fungsional.
Pada akhirnya, fenomena digital hoarding adalah cerminan gaya hidup manusia modern: kita menyimpan begitu banyak hal karena takut kehilangan, meski seringkali tidak benar-benar membutuhkannya. Pertanyaan yang tersisa, apakah kita menguasai data, atau justru data yang menguasai kita?
Baca Juga: Detox Digital di Malam Minggu, Cara Simpel Lepas dari Notifikasi dan Lebih Dekat dengan Diri Sendiri
Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis