JP RADAR NGANJUK-Hampir semua orang pernah mencoba tes MBTI. Dari anak sekolah, mahasiswa, sampai artis Korea, banyak yang penasaran dengan hasil tes kepribadian yang satu ini. Apalagi, deskripsi hasil MBTI sering kali terasa sangat tepat dan menggambarkan diri kita dengan akurat. Tapi, sebenarnya seberapa valid tes ini?
MBTI Bukan Tes Ilmiah
Walaupun populer, ternyata tes MBTI sebenarnya tidak akurat. Hasilnya sering berubah-ubah karena yang diukur adalah sifat yang bisa berganti sesuai kondisi, bukan kepribadian inti yang cenderung lebih stabil. Tidak jarang, ketika seseorang mencoba mengulang tes, hasil yang keluar justru berbeda sama sekali.
Lebih jauh lagi, MBTI ternyata tidak dibuat berdasarkan penelitian psikologi ilmiah. Tes ini diciptakan oleh sepasang ibu dan anak yang tidak memiliki latar belakang pendidikan psikologi formal. Mereka mendasarkan kategorinya pada tulisan Carl Jung, yang sendiri tidak pernah terbukti secara empiris. Akibatnya, pembagian kepribadian dalam MBTI banyak dianggap terlalu sederhana dan tidak realistis.
Baca Juga: Termasuk Tipe Introvert Atau Ekstrovert? Simak 8 Situs Tes MBTI Gratis dan Terpercaya
Efek Barnum: Kenapa Kita Merasa Relate?
Kalau begitu, kenapa banyak orang merasa deskripsi MBTI begitu akurat? Jawabannya ada pada efek Barnum. Ini adalah fenomena ketika pernyataan umum terasa sangat personal. Misalnya, deskripsi seperti “kadang kamu percaya diri, tapi kadang juga ragu-ragu”. Hampir semua orang bisa merasa itu benar tentang dirinya.
Efek Barnum juga sering digunakan dalam astrologi, ramalan zodiak, bahkan kue keberuntungan. Jadi, wajar jika banyak orang merasa “terbaca” oleh MBTI, padahal deskripsinya memang dibuat sesamar itu agar berlaku luas.
Tes Kepribadian yang Lebih Akurat
Bukan berarti tidak ada tes kepribadian yang lebih dapat dipercaya. Dalam dunia penelitian, ada tes lain seperti Big Five Personality Test yang lebih sering dipakai ilmuwan. Hasilnya lebih konsisten, tidak sekadar membagi orang dalam kategori kaku, tapi menunjukkan kecenderungan perilaku.
Meski begitu, bahkan tes ini pun tidak bisa menggambarkan kepribadian dengan sempurna. Pasalnya, manusia terlalu kompleks untuk sekadar diukur lewat kuesioner. Selain itu, banyak orang cenderung memilih jawaban yang menurut mereka “benar” atau ideal, bukan yang benar-benar mencerminkan diri mereka.
Jadi, Masih Perlukah Ikut Tes MBTI?
Meskipun tidak akurat secara ilmiah, MBTI tetap bisa jadi kegiatan yang menyenangkan. Tidak masalah kalau kita ingin mencobanya, selama tidak menjadikannya patokan mutlak dalam menilai diri sendiri maupun orang lain. Yang penting, jangan sampai hasil tes membuat kita menjauh dari orang lain hanya karena tipe mereka berbeda dari kita.
Pada akhirnya, kepribadian manusia terus berkembang. Pengalaman, nilai, dan kebiasaan baru bisa mengubah cara kita berpikir dan bertindak. Jadi, mungkin memang tidak ada tes tunggal yang bisa benar-benar menggambarkan siapa kita secara utuh.
Baca Juga: Memahami NPD: Gangguan Kepribadian Narsistik yang Ramai Dibicarakan di Media Sosial
Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis