Suasana hangat langsung terasa ketika seorang terapis yang memperkenalkan diri sebagai Dr. Glo membuka percakapan dengan pasiennya. Dengan nada menenangkan, ia menegaskan bahwa ruang konseling yang dijalani adalah tempat aman, bebas dari penghakiman, dan murni untuk mendengarkan serta membantu pasien mengenali dirinya lebih dalam.
Di awal pertemuan, Dr. Glo tidak langsung masuk ke topik berat. Ia lebih dulu mengajukan pertanyaan ringan seputar film, permainan, hingga rasa es krim favorit. Cara ini dilakukan untuk mencairkan suasana dan membuat pasien merasa nyaman bercerita.
Namun, perlahan pembicaraan bergerak ke arah yang lebih serius. Sang pasien diminta menyebutkan tiga kelebihan, tiga kekurangan, serta tiga hal yang disukai dari dirinya secara fisik. Menurut terapis, refleksi sederhana semacam itu penting sebagai langkah awal membangun kepercayaan diri.
Selain itu, Dr. Glo juga menyinggung gaya hidup pasien. Ia memberi saran agar tidur dilakukan sebelum tengah malam, minum minimal dua liter air per hari, serta menjaga waktu istirahat sekitar delapan jam. Bahkan, ia menyarankan menonton video ASMR di YouTube sebagai salah satu metode untuk membantu relaksasi dan mengatasi kesulitan tidur.
Topik keluarga tak luput dari pembahasan. Pasien diajak terbuka mengenai hubungan dengan orang tua, konflik yang sering muncul, serta cara menghadapi pertengkaran. Menurut Dr. Glo, mengenali pola konflik penting agar seseorang dapat memperbaiki sikap dalam menghadapi situasi serupa di masa depan.
Ia juga menekankan bahwa introvert maupun ekstrovert memiliki kelebihan masing-masing. Karena itu, tidak ada satu pun yang lebih unggul dibanding yang lain.
Di akhir sesi, Dr. Glo memberikan tugas refleksi kepada pasien: menuliskan pandangan tentang diri sendiri, kekuatan yang dimiliki, serta hal-hal yang ingin diperbaiki. “Semua orang akan mendapat manfaat dari terapi, bukan hanya mereka yang sedang menghadapi masalah besar,” ujarnya.
Menurutnya, terapi seharusnya dipandang sebagai proses normalisasi kesehatan mental, sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Ia menutup pertemuan dengan ajakan agar pasien tidak takut kembali berdiskusi di sesi berikutnya.
Editor : Jauhar Yohanis