Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Mengapa Kita Bisa Ketagihan Pedas? Ini Rahasia di Balik Sensasi Cabai!

Internship Radar Kediri • Kamis, 21 Agustus 2025 | 23:30 WIB
Ilustrasi Reaksi Pedas
Ilustrasi Reaksi Pedas

JP RADAR NGANJUK-Bagi pecinta kuliner pedas, rasa terbakar di lidah, keringat bercucuran, sampai perut yang mulas sering kali bukan jadi alasan untuk berhenti. Justru, semakin pedas makanan yang disantap, semakin muncul rasa puas setelahnya. Tapi, pernahkah terlintas pertanyaan: mengapa kita bisa ketagihan makan pedas?

Saat kita menggigit cabai atau makanan berbumbu pedas, sebenarnya lidah kita tidak benar-benar “terbakar”. Menurut Brain Academy by Ruangguru, capsaicin bukanlah rasa, melainkan zat yang mengelabui otak dengan menstimulasi reseptor panas, sehingga lidah “merasakan” seperti terbakar.

Yang terjadi adalah otak tertipu oleh zat bernama capsaicin, senyawa aktif dalam cabai. Capsaicin menempel pada reseptor saraf di lidah, yang biasanya merespons panas atau luka. Akibatnya, otak menerima sinyal seolah-olah ada bahaya: jantung berdebar lebih cepat, napas jadi pendek, tubuh mengeluarkan energi lebih banyak.

Menariknya, reaksi ini mirip dengan saat kita naik roller coaster atau menonton film horor. Ada rasa takut, deg-degan, tapi justru banyak orang menikmatinya. Otak kemudian memproduksi endorfin—hormon penghilang rasa sakit sekaligus pembangkit rasa senang. Inilah yang membuat banyak orang merasa puas dan bahkan ketagihan setelah makan pedas. Artikel Healthline menjelaskan bahwa capsaicin memicu pelepasan endorfin, yang bisa menambah mood terutama ketika sedang merasa down.

Baca Juga: Budidaya Cabai di Polybag: Rahasia Berbuah Maksimal Hingga 7 Bulan!

Tidak semua orang punya toleransi pedas yang sama. Ada orang-orang yang bisa dengan santai menikmati ayam geprek level 50, sementara yang lain sudah kewalahan di level 1. Perbedaan ini salah satunya dipengaruhi oleh faktor genetik.

Artikel ScienceLine mengungkap bahwa sekitar 18–58% variasi toleransi pedas dapat dijelaskan oleh faktor genetik berdasarkan sebuah studi tentang kembar yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Helsinki.

Beberapa orang memiliki lebih sedikit sensor penerima capsaicin di lidahnya, sehingga rasa pedas tidak terasa terlalu menyiksa. Bisa jadi, merekalah orang-orang yang kuat melahap makanan super pedas.

Fakta menarik lainnya, hampir tidak ada mamalia lain yang doyan pedas. Padahal, tumbuhan menghasilkan rasa pedas justru untuk melindungi diri—agar bijinya tidak dimakan semut, jamur, atau mamalia. Tapi, berbeda dengan hewan lain, manusia justru menemukan manfaat lain dari cabai.

Baca Juga: Dari Coffee Shop Estetik hingga Startup Digital, Ini Peluang Bisnis Kekinian untuk Gen Z

 

 

 

 

Beberapa ahli berpendapat, sejak zaman nenek moyang, manusia mengonsumsi cabai untuk alasan praktis: mengawetkan makanan. Capsaicin terbukti dapat menghambat pertumbuhan kuman dan jamur. Tidak heran jika di negara beriklim tropis seperti Indonesia, di mana makanan mudah cepat rusak, aneka hidangan pedas berkembang pesat sebagai bagian dari budaya kuliner.

Kabar baiknya, kesukaan pada makanan pedas tidak melulu soal genetik. Toleransi terhadap pedas bisa dilatih. Caranya sederhana: membiasakan diri makan pedas sedikit demi sedikit. Lama-kelamaan, otak akan lebih terbiasa dengan sinyal “sakit” dari capsaicin, dan tubuh tidak akan terlalu kaget lagi. Seperti kata pepatah, “bisa karena biasa.”

Baca Juga: Dari Urban Gardening hingga Gaming Strategis: Hobi Baru yang Lagi Hits di Kalangan Gen Z

 

Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya

Editor : Miko
#endorfin #cabai #capsaicin #genetik #pedas