JP RADAR NGANJUK - Franz Kafka, salah satu sastrawan besar abad ke-20 yang mendobrak dunia sastra melalui The Metamorphosis. Dengan karyanya Kafka menyingkap keterasingan dan absurditas hidup modern.
Kisah ini menceritakan Gregor Samsa, pegawai rajin yang suatu pagi berubah menjadi serangga raksasa. Perubahan ini bukan sekadar fantasi aneh, melainkan sebuah metafora tentang keterasingan, eksploitasi, dan cara manusia diperlakukan ketika dianggap tidak berguna.
Gregor adalah tulang punggung keluarga. Namun setelah tak mampu bekerja, ia justru dipandang sebagai beban. Kasih sayang keluarganya perlahan menghilang. Ibunya ikut menjauh, ayahnya berubah kasar, adiknya yang dulu dekat malah mendesak agar Gregor disingkirkan. Puncaknya, saat Gregor meninggal, keluarganya lega dan segera memulai hidup baru tanpa rasa duka.
Cerita ini menyoroti realitas pahit. Selama seseorang bisa memberi, ia dicintai. Begitu tidak lagi berkontribusi, ia dilupakan. Fenomena ini masih nyata dalam masyarakat modern. Anak yang ditelantarkan, orang tua yang diabaikan, hingga keluarga yang dikucilkan karena tak memberi manfaat ekonomi. Semua masih sering terjadi hingga saat ini.
Kafka juga menyingkap keterasingan manusia modern. Gregor bukan hanya asing di tubuh barunya, tapi juga terasing dari keluarga dan dirinya sendiri. Ini merefleksikan kesepian banyak orang yang, meski dikelilingi keluarga atau teman, ia tetap merasa sendirian.
Metamorfosis pada akhirnya adalah kritik sosial tajam. Manusia kerap diukur dari produktivitas, bukan kemanusiaannya. Kafka seolah bertanya kepada kita: apa yang membuat manusia benar-benar berharga? Kontribusinya, atau keberadaannya sebagai sesama manusia?
Widia Isnaini Rochmatun Nikmah - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis