Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Simbolisme Tokoh dan Relevansi Pesan Moral dalam Robohnya Surau Kami

Internship Radar Kediri • Rabu, 27 Agustus 2025 | 20:20 WIB
Novel Robohnya Surau Kami Karya A.A Navis
Novel Robohnya Surau Kami Karya A.A Navis

JP RADAR NGANJUK-Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A Navis alurnya disusun secara mundur. Tokoh “Aku” mengajak pembaca menengok kembali kenangan di kampung halamannya. Ia menggambarkan suasana dengan detail, misalnya jika beberapa tahun lalu seseorang datang ke kota kelahirannya menggunakan bus, maka ia akan turun dekat pasar.

Dalam cerpen ini, Navis menyelipkan kritik terhadap masyarakat Minang melalui tokoh Ajo Sidi. Sosok ini digambarkan sebagai pembual yang pandai berpidato dan kerap mengejek mereka yang terlalu sibuk dengan urusan agama, tetapi mengabaikan sisi kemanusiaan.

Cerita juga menghadirkan seorang kakek, penjaga surau tua yang hidup dari belas kasihan orang-orang sekitar. Ia bekerja sebagai pengasah pisau cukur—kadang mendapat imbalan, kadang tidak. Suatu ketika, tokoh “Aku” mendatanginya untuk memberi sedikit bantuan. Di situlah kakek meluapkan kekesalannya kepada Ajo Sidi yang sering membuatnya sakit hati.

Baca Juga: Tentang Trauma, Kehormatan, dan Keputusasaan: Analisis Cerpen Ramai Karya Sasti Gotama

Kakek kemudian menceritakan kisah tentang Haji Saleh. Diceritakan, Haji Saleh berdiri dengan penuh percaya diri di hadapan pintu putih dan hitam yang menentukan jalan menuju surga atau neraka. Ia yakin dirinya akan masuk surga karena merasa amal ibadahnya sempurna. Haji Saleh bahkan dengan sombong menyebut pernah berhaji, dan merasa gelar “Haji” sudah cukup menjadi jaminan keselamatan. Namun ketika Tuhan menanyai kehidupannya di dunia, terungkap bahwa ia terlalu sibuk mengurus ibadah pribadi hingga melupakan keluarga dan kaumnya.

Tuhan menegaskan bahwa kesalahan terbesar Haji Saleh adalah sifat egois: takut masuk neraka, rajin sembahyang, tetapi abai pada tanggung jawab sosial. Karena itulah malaikat diperintahkan untuk menyeretnya ke neraka.

Cerita mencapai klimaks saat kakek yang merasa terhantam oleh sindiran Ajo Sidi akhirnya bunuh diri dengan pisau cukur miliknya. Sejak kematiannya, surau yang ia jaga menjadi terlantar dan isinya dijarah oleh warga.

Cerpen ini memuat kritik sosial dan religius yang tajam. A.A. Navis ingin menegaskan bahwa agama tidak hanya tentang ritual, melainkan juga tanggung jawab sosial. Dari sinilah simbolisme dalam cerpen ini menjadi penting untuk ditelusuri. Cerpen ini kaya dengan simbol yang memperkuat kritik Navis terhadap religiusitas yang sempit. Beberapa simbol penting antara lain:

Baca Juga: Cerpen di TikTok: Sastra Secepat Geseran Layar

  1. Surau
    Bukan hanya tempat ibadah, surau melambangkan keimanan yang kaku dan terpisah dari realitas sosial. Ketika surau itu “roboh”, Navis menyimbolkan runtuhnya nilai religius yang tidak dibarengi kepedulian terhadap sesama.
  2. Kakek Penjaga Surau
    Ia adalah simbol ketekunan beribadah, tetapi sekaligus gambaran keterasingan sosial. Hidupnya dihabiskan untuk ibadah pribadi, tanpa pernah terlibat dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya.
  3. Ajo Sidi
    Melalui tokoh yang cerewet ini, Navis menghadirkan simbol kritik sosial. Walaupun dianggap pembual, Ajo Sidi adalah cermin suara kebenaran yang menyindir orang-orang yang mabuk ibadah ritual tapi melupakan nilai kemanusiaan.
  4. Haji Saleh
    Simbol manusia yang terlalu percaya diri dengan status religius. Ia mewakili fenomena orang beragama yang mengejar label dan ritual, tetapi tidak memikirkan kesejahteraan orang lain.
  5. Robohnya Surau
    Runtuhnya surau di akhir cerita bukan sekadar robohnya bangunan fisik. Itu adalah simbol kehancuran iman yang hanya sibuk dengan hubungan vertikal kepada Tuhan (habluminallah) tetapi melupakan hubungan horizontal dengan manusia (habluminannas).

Melalui simbol-simbol tersebut, A.A. Navis tidak hanya mengisahkan tragedi seorang kakek, tetapi juga mengingatkan pembaca tentang pentingnya keseimbangan antara ibadah kepada Tuhan dan tanggung jawab sosial. Cerpen ini relevan hingga kini, karena mengajak kita untuk berpikir ulang: sudahkah ibadah kita memberi manfaat bagi orang lain, atau justru membuat kita menutup diri dari kehidupan sosial?

Baca Juga: Sima: Cerpen Karya Sasti Gotama yang Menggugat Penindasan dan Perampasan Kebebasan

 

Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya

Editor : Jauhar Yohanis
#navis #novel #Robohnya Surau Kami #simbolisme #cerpen