Secara ilmiah, otak manusia memiliki loss aversion, yakni kecenderungan untuk lebih takut kehilangan daripada termotivasi meraih keuntungan. Dengan kata lain, rasa takut akan kegagalan terasa lebih intens dibanding rasa antusias untuk meraih kesuksesan.
Saat menghadapi keputusan penting, otak secara otomatis menimbang risiko kerugian lebih berat, membuat kita menunda atau bahkan menghindari langkah yang sebenarnya bisa mengubah hidup.
Dampak emosional dari ketakutan ini bisa sangat nyata. Kita mungkin merasa cemas, ragu, atau bahkan minder ketika melihat orang lain berani mengambil risiko dan berhasil. Rasa takut ini juga memicu overthinking, di mana setiap kemungkinan kegagalan dibesar-besarkan.
Padahal, kegagalan adalah bagian alami dari pertumbuhan dan pembelajaran. Untuk mengatasi rasa takut mengambil risiko, beberapa strategi bisa diterapkan. Pertama, ubah perspektif. Fokus pada peluang yang bisa didapat, bukan sekadar potensi kerugian.
Kedua, pecah langkah besar menjadi tindakan kecil yang lebih mudah dijalankan, sehingga otak tidak terlalu terbebani. Ketiga, terima bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan bahan pembelajaran yang berharga.
Dengan memahami cara kerja otak dan belajar menghadapi rasa takut, kita bisa mulai melangkah meski tidak sepenuhnya yakin. Setiap langkah kecil menuntun kita lebih dekat ke tujuan, sekaligus melatih keberanian untuk menghadapi ketidakpastian.
Widia Isnaini Rochmatun Nikmah - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Miko