JP RADAR NGANJUK-Kalau bicara soal kisah cinta tragis, banyak orang langsung teringat pada Romeo dan Juliet. Tapi ternyata, Nusantara juga punya cerita-cerita serupa yang nggak kalah menyayat hati.
Tiga diantaranya adalah Roro Mendut, Jayaprana-Layonsari, dan Bangsacara-Ragapadmi. Meski lahir dari daerah yang berbeda, ketiganya punya pola kisah yang mirip: cinta sejati yang berakhir di tangan kekuasaan.
Roro Mendut, misalnya. Cerita asal Jawa ini mengisahkan seorang perempuan cantik dari Pajang yang dipaksa menjadi selir Adipati Pragola II. Tapi hatinya sudah jatuh pada Pronocitro, seorang prajurit biasa.
Mendhut menolak keras keinginan sang adipati, bahkan dengan taruhan nyawa. Akhirnya, penolakan itu membuat Mendut dan Pronocitro justru menghadapi kematian. Cinta mereka tidak direstui, tapi tetap teguh sampai akhir.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Novel untuk Belajar Sejarah Indonesia
Sementara itu, dari Bali ada cerita Jayaprana dan Layonsari. Kisah ini bermula bahagia: Jayaprana, seorang pemuda yatim piatu, akhirnya menikah dengan gadis pujaan hatinya, Layonsari.
Tapi kebahagiaan mereka direnggut saat Raja Kalianget jatuh hati pada Layonsari. Dengan licik, sang raja mengirim Jayaprana ke hutan dengan alasan tugas negara, lalu membunuhnya. Saat kabar kematian itu sampai, Layonsari dipaksa menikah dengan raja. Namun, ia memilih bunuh diri di makam suaminya. Cinta mereka tetap abadi, meski dalam kematian.
Cerita serupa juga hadir dalam kisah Bangsacara dan Ragapadmi. Berlatar di Kediri, kisah ini menggambarkan Bangsacara, seorang pemuda sakti yang mencintai Ragapadmi. Namun, kecantikan Ragapadmi memikat hati raja. Dengan segala cara, raja ingin memilikinya. Kisah pun berakhir tragis: Bangsacara dan Ragapadmi tidak bisa bersatu, dan kematian menjadi jalan terakhir cinta mereka.
Dalam kisah Roro Mendut, yang menonjol bukan hanya cinta, tetapi juga keberanian seorang perempuan dalam menghadapi kuasa patriarki. Mendhut digambarkan sebagai sosok yang berdaya, yang berani menolak keinginan seorang adipati untuk menjadikannya selir. Sikapnya itu menunjukkan bahwa ia tidak ingin menjadi sekadar objek kekuasaan.
Baca Juga: Jejak Unik Sejarah Jam Tangan, Dari Perhiasan Ratu Hingga Gadget Canggih
Pilihannya jelas: ia tetap setia pada cintanya dengan Pronocitro, meski akhirnya harus berujung pada tragedi. Dari kisah ini, terlihat bagaimana perlawanan seorang perempuan terhadap dominasi kekuasaan bisa menjadi simbol keberanian yang melampaui zamannya.
Sementara itu, cerita Jayaprana dan Layonsari lebih menonjolkan tema kesetiaan cinta yang tulus, bahkan hingga akhir hayat. Setelah Jayaprana dibunuh dengan tipu daya raja, Layonsari memilih untuk tidak tunduk pada paksaan. Ia menolak hidup bersama raja yang telah merenggut suaminya, dan akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.
Tindakan Layonsari mencerminkan pengorbanan dan tekad untuk tetap menyatu dengan Jayaprana, baik dalam kehidupan maupun kematian. Kisah ini menghadirkan nuansa yang berbeda: bukan sekadar melawan kekuasaan, melainkan meneguhkan arti cinta yang abadi.
Berbeda dengan keduanya, kisah Bangsacara dan Ragapadmi lebih kental dengan nuansa politik. Tragedi cinta mereka tidak bisa dilepaskan dari perebutan kuasa dalam lingkup kerajaan. Cinta yang tulus di antara keduanya akhirnya terhimpit oleh ambisi penguasa yang berusaha memiliki Ragapadmi.
Baca Juga: Ternyata Begini Sejarah Jeans, dari Pakaian Pekerja hingga Simbol Fashion Dunia
Intrik dan tekanan politik membuat cinta mereka tidak pernah benar-benar menemukan jalan terang. Pada akhirnya, tragedi yang menimpa Bangsacara dan Ragapadmi sarat dengan pesan bahwa cinta, dalam dunia yang dikuasai oleh hierarki dan kepentingan, sering kali menjadi korban.
Jika ditarik benang merahnya, ketiga kisah ini sama-sama berujung pada kematian tragis pasangan muda yang cintanya terhalang oleh kuasa. Namun, masing-masing memiliki penekanan berbeda: Roro Mendut pada keberanian perempuan, Jayaprana-Layonsari pada kesetiaan cinta, dan Bangsacara-Ragapadmi pada dominasi politik.
Perbedaan itu justru memperlihatkan bagaimana setiap budaya menuturkan tragedi cinta dengan caranya sendiri, sesuai dengan nilai, konteks sosial, dan sejarah masyarakat tempat cerita itu lahir.
Kisah-kisah ini juga memberi kita cermin bahwa narasi cinta tragis tidak hanya sekadar hiburan atau dongeng. Ia mengandung nilai moral, kritik sosial, hingga peringatan tentang bagaimana kuasa sering mengorbankan manusia biasa. Dan pada akhirnya, mereka yang berani mempertahankan cinta sering kali harus membayar dengan nyawa.
Baca Juga: Jadi Favorit Warga Nganjuk untuk Berbuka Puasa, Begini Sejarah Es Teler
Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis