JP RADAR NGANJUK-Bayangkan sebuah pulau dengan pantai biru jernih, gunung hijau menjulang, dan jalanan kota yang nyaris tanpa sampah. Itulah Jeju, surga wisata Korea Selatan yang tak hanya memesona karena alamnya, tetapi juga karena kedisiplinan warganya dalam mengelola sampah. Pulau ini dikenal punya sistem pengelolaan sampah paling ketat di dunia, yang membuat banyak negara iri sekaligus kagum.
Bayar Sesuai Sampah: Bikin Warga Lebih Bertanggung Jawab
Sejak 1995, Korea Selatan menerapkan sistem Volume-Based Waste Fee (VBWF), alias “bayar sesuai jumlah sampah yang dibuang”. Di Jeju, aturan ini berjalan super ketat.
Setiap jenis sampah plastik, kertas, kaca, kaleng, hingga sisa makanan punya kantong resmi dengan warna berbeda. Kantong ini harus dibeli warga, jadi semakin banyak sampah yang dihasilkan, semakin besar pula biaya yang harus mereka keluarkan.
Kalau ada yang nekat buang sembarangan? Siap-siap saja kena denda jutaan rupiah. Hasilnya, warga jadi terbiasa memilah sampah sejak dari rumah. Menurut Korea Environment Institute (2021), kebijakan ini berhasil memangkas produksi sampah rumah tangga hingga 30 persen.
Sampah Makanan Jadi Pupuk dan Pakan
Budaya makan Korea memang kaya rasa, tapi juga memunculkan banyak sampah makanan. Di Jeju, sisa makanan tidak bisa asal buang. Warga harus menimbangnya di mesin khusus yang sudah dipasang di banyak titik. Biayanya dihitung sesuai berat sampah.
Yang menarik, sisa makanan itu tidak berakhir di TPA. Sebagian besar diolah jadi pupuk organik atau pakan ternak. Jadi, makanan yang terbuang tetap memberi manfaat bagi pertanian dan peternakan lokal. Menurut The Korea Herald (2022), inovasi ini sekaligus menekan polusi lingkungan.
Teknologi Canggih, Pulau Semakin Bersih
Jeju tak hanya mengandalkan aturan ketat, tapi juga teknologi. Di beberapa area, sudah ada smart bin alias tempat sampah pintar. Alat ini bisa menimbang, mencatat, bahkan memisahkan sampah otomatis. Transparan, efisien, dan jelas membuat warga lebih mudah patuh aturan.
Bukan itu saja, sebagian limbah di Jeju bahkan diubah menjadi energi listrik. Dengan begitu, sampah bukan lagi musuh, melainkan sumber daya baru.
Jeju juga meminimalisir penggunaan plastik sekali pakai, khususnya di sektor pariwisata, melalui penerapan sistem gelas deposit-refund dan penghentian perlengkapan sekali pakai di hotel-hotel bersertifikat Green Key.
Sampah organik diolah menjadi biogas yang digunakan untuk pembangkit listrik, dan limbah lainnya diolah secara ramah lingkungan dengan fasilitas modern yang dilengkapi sistem penyaringan gas berlapis.
Dampak Positif yang Bisa Dirasakan Wisatawan
Hasilnya nyata. Jalanan kota terasa bersih, pantai tampak jernih, dan udara lebih segar. Wisatawan pun kerap kagum karena kebersihan pulau benar-benar terjaga.
Lebih dari itu, warga juga jadi terbiasa hidup disiplin. Mereka paham betul bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar aturan, tapi budaya. Tak heran, Jeju kini disebut sebagai salah satu pulau terbersih di dunia.
Kita mungkin tidak bisa langsung meniru semua yang dilakukan Jeju. Namun, sistem ketat ini menunjukkan satu hal penting: sampah bisa dikendalikan jika ada aturan jelas, teknologi mendukung, dan masyarakat mau disiplin.
Jeju membuktikan, kebersihan bukan hanya soal estetika, tapi juga identitas. Pulau ini berhasil menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari dan hasilnya, dunia pun mengakui.
Penulis: Melanie Putri Devianasari-Mahasiswa Magang UN PGRI Kediri
Editor : Jauhar Yohanis