Secara psikologi, manusia memiliki dorongan alami untuk diterima oleh orang lain. Ketika merasa diabaikan atau tersisih, otak merespons dengan cara yang mirip dengan rasa sakit fisik.
Hasilnya, seseorang bisa mengalami kecemasan, minder, atau bahkan overthinking berlebihan tentang perilaku dan penilaian orang lain. Tidak heran jika rasa takut ini membuat kita berusaha keras untuk menyesuaikan diri atau mencari persetujuan dari lingkungan sosial.
Fear of being left out juga dapat memengaruhi kualitas hubungan dan kesehatan mental. Seseorang mungkin enggan mengekspresikan diri secara autentik, takut bersikap berbeda, atau terlalu fokus menyenangkan orang lain. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menimbulkan stres, penurunan kepercayaan diri, dan kesulitan membangun hubungan yang sehat.
Dalam mengatasi ketakutan tersingkirkan, beberapa strategi bisa diterapkan. Pertama, sadari bahwa tidak semua orang bisa diterima oleh semua kelompok, dan itu hal yang normal. Kedua, bangun rasa percaya diri dengan menguatkan diri melalui hobi, pencapaian pribadi, atau lingkaran pertemanan yang suportif. Ketiga, latih komunikasi yang jujur dan batasan sehat, sehingga hubungan sosial tetap seimbang tanpa harus kehilangan diri sendiri.
Memahami fear of being left out membantu kita lebih bijak menghadapi interaksi sosial. Daripada terus merasa gelisah karena takut diabaikan, kita bisa fokus pada kualitas hubungan, bukan sekadar jumlah orang yang menerima kita. Ketika rasa takut ini mulai terkendali, kehidupan sosial pun menjadi lebih sehat, dan kita bisa hadir sepenuhnya tanpa terjebak dalam cemas atau overthinking.
Widia Isnaini Rochmatun Nikmah - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis