JP RADAR NGANJUK - Siapa yang tidak senang menyanyi? Aktivitas yang satu ini kerap menjadi sarana ekspresi, hiburan, bahkan pembentukan karakter sejak kecil. Banyak orang terpesona saat mendengar suara merdu, dan terkadang muncul pertanyaan: apakah kemampuan menyanyi dengan indah itu bisa diwariskan secara genetik? Atau apakah ada faktor lain yang lebih menentukan?
Menyanyi: Seni dan Fisik yang Terpadu
Seorang anak yang bisa bernyanyi dengan suara merdu tidak selalu lahir dari orang tua yang profesional. Namun, sering kali ada kaitan menarik antara kemampuan bernyanyi dan faktor keluarga. Seorang anak yang orang tuanya memiliki suara indah biasanya memiliki peluang lebih tinggi untuk mengembangkan kemampuan bernyanyi, walau tidak menjamin 100%.
Menurut William Vennard dalam buku Singing: The Mechanism and the Technic, menyanyi sesungguhnya adalah seni. Artinya, kemampuan bernyanyi bukan semata bawaan lahir, melainkan hasil pengembangan, latihan, dan penghayatan.
Namun, bentuk fisik tubuh juga turut memengaruhi. Misalnya, struktur tengkorak, ukuran rongga hidung, kapasitas paru-paru, serta kontrol atas pita suara semuanya berperan dalam kualitas suara.
Seorang penyanyi yang baik bukan hanya mengandalkan pita suara, tetapi juga kemampuan mendengar dan memahami nada. Setiap nada adalah frekuensi bunyi yang harus diterima telinga, diproses otak, dan kemudian diterjemahkan menjadi getaran suara melalui pita suara.
Latihan vokal berulang kali diibaratkan seperti olahraga untuk otot—semakin terlatih, semakin baik hasilnya. Pelatih vokal Justin Stoney menekankan pentingnya konsistensi dan disiplin dalam melatih suara agar kualitas bernyanyi meningkat.
Peran Genetik dan Lingkungan
Apakah suara merdu benar-benar keturunan? Penelitian menunjukkan ada korelasi antara faktor genetik dan kemampuan musik. Beberapa gen pada kromosom memengaruhi kemampuan mendengar nada, ingatan musik, dan partisipasi aktif seseorang dalam bernyanyi.
Baca Juga: Hotman Paris Buka Suara, Pria yang Dituding Selingkuhan Paula Ternyata Tamu yang Diundang Baim Wong
Ini berarti anak yang lahir dari orang tua penyanyi atau orang dengan ketertarikan musik tinggi cenderung memiliki “potensi” untuk berkembang di bidang musik.
Namun, faktor lingkungan juga krusial. Anak yang tumbuh di rumah dengan budaya musik aktif—misalnya rutin mendengar lagu, diajak bernyanyi, atau bermain alat musik—akan lebih percaya diri, tertarik, dan berlatih lebih sering.
Kebiasaan ini membentuk keterampilan bernyanyi yang bisa melebihi bakat genetik semata. Dengan kata lain, kombinasi genetik, latihan, dan lingkungan yang mendukung akan menghasilkan kemampuan bernyanyi yang optimal.
Mengasah Bakat Bernyanyi
Seperti keterampilan lain, kemampuan bernyanyi bisa diasah. Latihan rutin membantu memperkuat kontrol pernapasan, memperluas jangkauan nada, dan meningkatkan ekspresi musikal. Sebagaimana atlet berlatih untuk memperbaiki performa atau penulis berlatih menulis, penyanyi perlu latihan teratur untuk mengembangkan bakatnya.
Selain itu, faktor psikologis juga penting. Kepercayaan diri, kenyamanan, dan kegembiraan dalam bernyanyi berperan dalam kualitas suara. Seorang anak yang merasa didukung untuk mengekspresikan diri melalui nyanyian akan lebih mampu mengeluarkan suara yang natural dan indah.
Baca Juga: Kolaborasi NOAH dan Ramengvrl dalam Lagu Suara Dalam Kepala Menggugah Perasaan Overthinking
Jadi, apakah suara merdu itu keturunan? Ada benarnya—genetik dan lingkungan keluarga yang menghargai musik memang memengaruhi kemampuan bernyanyi. Namun, latihan, kebiasaan mendengar musik, dan budaya sekitar juga berperan besar.
Dengan kata lain, kemampuan bernyanyi dengan indah bukan sekadar bawaan lahir, tetapi perpaduan antara gen, latihan, dan pengalaman.
Artinya, siapa pun bisa belajar menyanyi dan memperbaiki kualitas suaranya. Gen mungkin memberi keuntungan awal, tapi kerja keras, dedikasi, dan lingkungan yang mendukung akan menentukan sejauh mana kemampuan bernyanyi bisa berkembang. Bernyanyi bukan hanya soal bakat, tapi juga tentang seni, disiplin, dan kegembiraan dalam mengekspresikan diri.
Baca Juga: Kesederhanaan sebagai Simbol Cinta Sejati dalam Puisi Sapardi Djoko Damono
Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Miko