JP RADAR NGANJUK - Dalam dunia sastra, kreativitas tidak hanya lahir dari cerita panjang atau novel berjilid-jilid. Bentuk yang lebih ringkas, seperti cerpen atau bahkan microfiction, kini banyak digemari karena mampu menyajikan cerita yang singkat, padat, tetapi tetap bermakna.
Salah satu bentuk karya sastra modern yang berkembang di Indonesia adalah pentigraf—sebuah cerita pendek hanya terdiri dari tiga paragraf.
Istilah pentigraf diperkenalkan oleh sastrawan Dr. Tengsoe Tjahjono, dosen sekaligus penggiat sastra dari Universitas Negeri Surabaya.
Menurutnya, pentigraf bukan sekadar teks singkat, tetapi sebuah karya yang menuntut kepadatan narasi, kelugasan bahasa, dan kekuatan imajinasi. Dengan hanya tiga paragraf, penulis harus bisa menyampaikan ide, membangun konflik, sekaligus memberi penyelesaian yang berkesan.
Beberapa hal yang menjadi ciri khas pentigraf antara lain:
- Singkat dan padat: hanya tiga paragraf, tapi tetap memiliki alur.
- Mengandung kejutan: seringkali berakhir dengan twist atau pesan reflektif.
- Fleksibel: bisa ditulis dalam berbagai tema, mulai dari sosial, budaya, hingga persoalan sehari-hari.
Contoh Pentigraf: Memenggal Musibah
Sudah hampir 2 jam yang ditunggu tak kunjung datang. Surti mulai gelisah. Sendirian dia di terminal yang makin sepi. Sementara hari semakin gelap. Bambang berjanji untuk menyusulnya. Mereka akan keluar kota bersama hari ini. Mereka telah merencanakan semua ini jauh-jauh hari.
Ditatapnya nanar seonggok koper yang berada di sampingnya. Tangannya yang dingin meremat gawai, kemudian getaran itu menyadarkan Surti. 'Maaf, kita tidak bisa melanjutkan semua ini, kita salah.' Pesan dari Bambang membuat hatinya mencelos, namun anehnya ia merasa lega. Surti bangkit, memesan taksi, meninggalkan mimpi yang nyaris menghianati.
Dalam perjalanan kembali menuju rumahnya, perempuan itu merasa lunglai. Hatinya terasa perih, air mata menganak sungai pada permukaan pipi. Tak pernah ia merasa selega ini. Surti memejamkan mata, berpikir menu apa yang akan ia masak pagi besok untuk anaknya yang masih balita. Sekaligus untuk suaminya yang besok sudah pulang dari luar kota.
Baca Juga: Tentang Trauma, Kehormatan, dan Keputusasaan: Analisis Cerpen Ramai Karya Sasti Gotama
Keunikan pentigraf membuatnya sering digunakan sebagai media latihan menulis kreatif. Banyak komunitas sastra dan mahasiswa menggunakan bentuk ini untuk mengasah keterampilan bercerita. Bahkan, tidak sedikit karya pentigraf yang kemudian dihimpun menjadi antologi dan dipublikasikan di berbagai media.
Dengan bentuk yang ringkas, pentigraf membuktikan bahwa sastra tidak selalu harus panjang dan bertele-tele. Justru dalam keterbatasan ruang, imajinasi penulis diuji untuk menyampaikan makna secara lebih efektif dan menyentuh pembaca.
Baca Juga: Sima: Cerpen Karya Sasti Gotama yang Menggugat Penindasan dan Perampasan Kebebasan
Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Miko