Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Urban Living vs Rural Living: Mana Lebih Cocok untuk Gaya Hidup Modern?

Internship Radar Kediri • Selasa, 2 September 2025 | 17:35 WIB
Urban Living VS Rural Living
Urban Living VS Rural Living

JP RADAR NGANJUK-Bayangkan suatu pagi di pusat kota. Suara klakson bersahutan, kereta melintas cepat, dan aroma kopi dari kedai di sudut jalan memenuhi udara. Semua serba cepat, serba sibuk, namun juga penuh peluang.

Bandingkan dengan pagi di pedesaan: embun masih menempel di dedaunan, suara ayam berkokok terdengar jelas, dan Anda bisa menyeruput teh hangat sambil memandang hamparan sawah yang hijau. Tenang, damai, dan terasa lebih manusiawi.

Kedua dunia ini sama-sama punya pesona dan tantangannya masing-masing. Lalu, di tengah gaya hidup modern saat ini, mana yang sebenarnya lebih cocok?

Hidup di Kota: Dinamis, Modern, Tapi Menuntut

Hidup di kota sering digambarkan sebagai pusat peluang. Ada lebih banyak pilihan karier, akses ke pendidikan terbaik, dan fasilitas kesehatan yang lengkap. Transportasi umum memudahkan mobilitas, sementara hiburan selalu tersedia 24 jam.

Menurut Greater Good Science Center (UC Berkeley), kota juga mendorong masyarakatnya untuk lebih aktif berjalan kaki atau bersepeda karena fasilitas publik yang memadai.

Namun, sisi lain kota seringkali membuat warganya lelah. Polusi udara, kemacetan, kebisingan, hingga tekanan pekerjaan bisa berdampak besar pada kesehatan mental. Studi dalam Molecular Psychiatry bahkan menunjukkan bahwa warga kota memiliki risiko 21% lebih tinggi mengalami kecemasan dan 39% lebih tinggi depresi dibandingkan mereka yang tinggal di pedesaan (TIME, 2022).

Dengan kata lain, tinggal di kota berarti menikmati berbagai kemudahan, tapi juga dituntut punya mental yang kuat menghadapi tekanan.

Hidup di Desa: Damai, Sehat, Tapi Terbatas

Berbeda dengan kota, desa menawarkan ritme hidup yang lebih lambat. Anda bisa bangun pagi tanpa suara kendaraan, menghirup udara segar, dan menikmati pemandangan alam setiap hari. Lingkungan seperti ini bukan hanya menyejukkan mata, tapi juga menyehatkan jiwa.

Penelitian dari RMIT University menunjukkan bahwa hidup dekat dengan alam membantu tubuh menghirup “aeronutrients”, mikroba sehat dari udara yang bisa meningkatkan sistem imun sekaligus menurunkan stres (Herald Sun, 2023). Bahkan berjalan di hutan atau sawah dapat menurunkan kadar hormon kortisol pemicu stress dan meningkatkan mood secara alami.

Namun, desa juga memiliki keterbatasan. Akses ke rumah sakit besar, universitas ternama, atau peluang kerja di bidang teknologi masih minim. Studi dari University of Houston mencatat bahwa masyarakat pedesaan lebih rentan depresi karena sulitnya akses layanan kesehatan mental yang memadai.

Mana yang Lebih Cocok untuk Anda?

Jawabannya tidak ada yang mutlak. Kota cocok bagi mereka yang mengejar karier, koneksi, dan fasilitas modern. Sementara desa lebih ideal untuk yang mendambakan ketenangan, kesehatan mental, dan kehidupan sederhana.

Banyak orang modern kini mencoba menggabungkan keduanya: bekerja di kota dengan segala kesibukannya, lalu sesekali kabur ke pedesaan untuk memulihkan energi. Ada pula tren remote working yang membuat orang bisa tinggal di pedesaan tapi tetap terhubung dengan pekerjaan global.

Pada akhirnya, yang terpenting bukan hanya di mana Anda tinggal, tapi bagaimana Anda menemukan keseimbangan. Karena baik kota maupun desa, keduanya bisa menjadi rumah asal sesuai dengan nilai, kebutuhan, dan gaya hidup Anda.

Fun Fact: Trend unik: “Rural Nomads”. Semakin banyak pekerja digital memilih tinggal di desa atau kota kecil sambil tetap bekerja online. Fenomena ini meningkat pesat pasca-pandemi COVID-19, dan jadi gaya hidup baru yang menggabungkan keindahan alam desa dengan teknologi modern.

 

Penulis: Melanie Putri Devianasari-Mahasiswa Magang UN PGRI Kediri

Editor : Jauhar Yohanis
#modern #kota #gaya hidup #desa #remote working