JP RADAR NGANJUK-Setiap rumah warga pasti menghasilkan sampah, baik organik maupun anorganik. Sampah organik adalah jenis sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dedaunan kering, hingga rumput. Sampah ini mudah terurai secara alami sehingga bisa diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Mengelola sampah organik penting dilakukan karena dua alasan utama. Pertama, sampah organik seringkali menumpuk dan menimbulkan bau tidak sedap jika dibuang begitu saja. Kedua, dengan pengelolaan yang tepat, sampah tersebut justru bisa diubah menjadi pupuk alami yang berguna untuk menyuburkan tanaman.
Artinya, pengelolaan sampah organik bukan hanya mengurangi volume sampah rumah tangga, tetapi juga membantu menjaga lingkungan sekaligus memberikan manfaat langsung bagi kebutuhan sehari-hari.
Proses mengolah sampah organik menjadi pupuk sebenarnya cukup sederhana. Sampah seperti sisa sayuran, kulit buah, atau daun kering bisa dikumpulkan dalam wadah khusus atau digali ke dalam tanah untuk dibuat kompos. Setelah itu, sampah ditutup dengan tanah atau dedaunan agar proses pembusukan berjalan optimal.
Supaya lebih cepat, campurkan dengan sedikit tanah yang subur atau cairan bio-aktivator. Dalam beberapa minggu hingga bulan, sampah organik akan terurai dan berubah menjadi pupuk kompos yang siap digunakan untuk menyuburkan tanaman.
Namun, tidak semua sampah organik bisa diolah menjadi pupuk. Beberapa jenis seperti kotoran hewan peliharaan, minyak goreng bekas, atau sisa makanan berminyak sebaiknya tidak digunakan karena bisa menimbulkan bau menyengat, mengundang hama, bahkan merusak kualitas tanah. Paling aman adalah sisa sayuran, kulit buah, dedaunan, dan limbah dapur yang tidak berminyak.
Dengan cara sederhana ini, mengelola sampah organik tidak hanya membuat lingkungan lebih bersih, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata berupa pupuk alami. Rumah jadi lebih ramah lingkungan, tanaman tumbuh subur, dan kita ikut berkontribusi mengurangi masalah sampah yang kian menumpuk setiap harinya.
Widia Isnaini Rochmatun Nikmah-Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis