JP RADAR NGANJUK-Diet modern semakin bervariasi: ada diet yang lebih fleksibel, ada pula yang sangat ketat seperti diet keto atau low-carb ekstrem. Pertanyaannya: apakah mungkin (dan aman) kalau seseorang mencoba diet yang tanpa buah dan sayur sama sekali? Apakah tubuh tetap bisa mendapatkan gizi yang dibutuhkan, dan apa konsekuensinya?
Dalam tulisan ini kita akan telaah aspek diet keto atau low-carb, yang banyak menggunakan lemak sebagai sumber energi utama, serta apakah diet tanpa buah dan sayur bisa berjalan berdasarkan penelitian.
Artikel Ekol Hospitals (2024), diet keto (ketogenic diet) dan varian low-carb biasanya membatasi konsumsi karbohidrat (termasuk dari buah dan sayur tertentu), dan meningkatkan asupan lemak dan protein. Tujuannya memicu kondisi ketosis: tubuh menggunakan lemak dan keton sebagai bahan bakar, bukan glukosa dari karbohidrat.
Baca Juga: Diet OMAD: Makan Sekali Sehari, Efektif atau Justru Berisiko?
Beberapa orang menjalani varian diet yang sangat rendah karbohidrat, yang hampir menghilangkan buah dan sayur tinggi karbohidrat. Namun, “buah dan sayur rendah karbohidrat” sering masih diperbolehkan dalam jumlah terbatas agar asupan vitamin, mineral, dan serat tetap terjaga.
Mengambil satu sumber utama yaitu artikel dari Healthline (2024), bisa dirangkum beberapa manfaat jika seseorang menjalani diet yang sangat rendah karbohidrat (termasuk minimal atau tanpa buah & sayur) dengan sumber energi dari lemak.
Berikut manfaat-manfaat yang disebutkan:
1. Penurunan Berat Badan
Karena tubuh terpaksa membakar lemak sebagai sumber energi utama, terjadi pengurangan cadangan lemak tubuh. Hal ini bisa membantu dalam penurunan berat badan.
Baca Juga: Diet Tanpa Kesiksa? Kenalan dengan Metode 80/20!
2. Penurunan Tekanan Darah
Beberapa studi menunjukkan diet yang secara ekstrem mengurangi karbohidrat dapat membantu menurunkan tekanan darah, yang berguna bagi orang dengan hipertensi.
3. Kontrol Gula Darah yang Lebih Baik
Dengan sedikitnya asupan karbohidrat (yang diubah menjadi glukosa darah), kadar gula darah bisa lebih stabil, dan sensitivitas insulin bisa meningkat—ini penting untuk orang dengan risiko diabetes tipe 2.
4. Mengurangi Kadar Gula Darah Puasa (Fasting Blood Sugar)
Karena tubuh tidak terus-menerus menerima “dorongan” glukosa dari karbohidrat tinggi, gula darah puasa dapat menjadi lebih rendah atau lebih mudah dikontrol.
Baca Juga: Mitos vs Fakta Diet Keto: Tren Hits yang Bikin Banyak Orang Salah Paham
Walau ada manfaat-manfaat di atas, ada juga catatan risiko penting:
- Kekurangan vitamin dan mineral: Tanpa buah dan sayur, kamu bisa kekurangan vitamin C, vitamin A, beberapa B-complex, mineral seperti potassium dan magnesium.
- Kekurangan serat: Serat penting untuk kesehatan usus, mengatur pencernaan, dan mencegah sembelit. Diet rendah atau tanpa sayur dan buah cenderung sangat rendah serat.
- Beban pada organ hati dan ginjal: Metabolisme lemak dan protein dalam diet sangat tinggi bisa membebani organ hati, ginjal, juga mempengaruhi metabolisme lipid (kolesterol, dll.).
- Kesulitan mempertahankan dalam jangka panjang: Banyak orang merasa sulit menetap di pola makan yang sangat terbatas. Ada potensi efek psikologis dan sosial.
Baca Juga: Susu Kedelai: Solusi Diet Alami yang Sering Diremehkan
Jadi, apakah mungkin diet tanpa buah dan sayur? Dari segi teori dan penelitian beberapa varian ekstrem diet keto atau low-carb memang memungkinkan tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi utama, dan bisa mendatangkan manfaat seperti penurunan berat badan, kontrol gula darah, dan tekanan darah lebih baik.
Namun, diet semacam ini memiliki risiko nyata terutama terkait kekurangan nutrisi (vitamin, mineral, serat), potensi masalah kesehatan jangka panjang, dan tantangan dalam pelaksanaannya.
Pola makan apapun bila dijalani secara ekstrem tanpa pengawasan bisa menimbulkan efek negatif. Keseimbangan dan variasi tetap kunci untuk kesehatan yang berkelanjutan.
Baca Juga: Gagal Diet Terus? Intip Perbandingan Diet Mediterania dan Intermittent Fasting yang Wajib Kamu Tahu!
Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis