JP RADAR NGANJUK-Masyarakat terutama daerah jawa percaya jika makan brutu (bagian pantat ayam) akan membuat kita pikun atau pelupa. Tak sedikit orang yang percaya dengan mitos ini.
Apalagi anak-anak sering dilarang memakan brutu karena dikhawatirkan akan menjadi pikun. Bagaimana pandangan medis dengan hal ini?
Sampai sejauh ini, tidak ada bukti ilmiah atau penelitian medis yang mendukung bahwa memakan brutu (bagian pantat ayam) dapat menyebabkan pikun atau gangguan memori secara langsung. Artinya, mitos ini lebih bersifat kepercayaan budaya daripada fakta yang diuji secara ilmiah.
Memori dan kemampuan kognitif manusia dipengaruhi oleh banyak faktor. Nutrisi, kesehatan otak secara keseluruhan, gaya hidup (seperti tidur, stres, olahraga), faktor genetik, dan kondisi medis adalah beberapa faktor yang memengaruhi.
Namun, tidak ada penelitian peer-reviewed yang menemukan bahwa bagian khusus dari ayam seperti brutu memiliki efek langsung pada fungsi memori.
Jika brutu banyak mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi (terutama jika digoreng dengan banyak minyak atau diproses dengan cara yang kurang sehat), maka secara tidak langsung dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Misalnya tekanan darah tinggi dan penyakit jantung. Hal ini sudah terbukti memiliki efek pada kesehatan otak bila pembuluh darah terganggu. Namun ini bukan karena “pantat ayam” melainkan akibat pola makan yang tidak sehat secara umum.
Kepercayaan masyarakat bisa memperkuat mitos. Jika seseorang percaya bahwa brutu dapat menyebabkan lupa, maka tiap kali ia merasa lupa (yang wajar terjadi siapa pun), ia mungkin lebih cepat menyalahkan “brutu”. Itu adalah efek psikologis yang bukan karena faktor biologis.
Widia Isnaini Rochmatun Nikmah-Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis