NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Kalau dengar kata toxic relationship, seringkali yang dituding toxic itu pasangan. Padahal bisa jadi kita sendiri yang tanpa sadar jadi sumber racun dalam hubungan. Hubungan itu harusnya timbal balik, tapi kalau salah satunya sibuk ngatur, ngegas, atau nggak mau dengerin, ya jadi racun pelan-pelan dan bikin hubungan lama-lama jadi sumpek.
Sikap toxic sering kali muncul dari rasa insecure, takut kehilangan yang berlebihan, atau kebiasaan mengontrol pasangan yang dianggap wajar. Banyak yang tidak sadar kalau selalu ngecek chat pasangan tiap jam dan gampang nuduh itu bentuk dari toxic.
Nah, biar nggak sibuk nyalahin pasangan, coba cek duku tanda-tanda ini. Bisa jadi kamu yang toxic:
Suka Ngatur Berlebihan
Kebiasaan suka ngatur dan mengontrol pasangan bukanlah hak yang baik. Ini bikin pasangan susah punya ruang gerak dan seolah tidak punya hak akan dirinya sendiri.
Cemburu Lebay
Cemburu sering kali dirasakan ke pasangan, bisa dikatakan itu adalah hal wajar. Tapi jika di tahapan cemburu yang berlebih atau lebay bahkan tanpa bukti, juga bisa bikin pasangan nggak nyaman. Bukan cuma pasangan, tapi orang-orang di sekitarnya pula.
Gaslighting ke Pasangan
Istilah ini diartikan sebagai tindakan yang bikin orang lain selalu merasa salah. Hal ini juga sering ditemui di hubungan toxic. Banyak ungkapan yang tidak secara langsung menyalahkan, namun justru bikin pasangan merasa salah dan meragukan diri sendiri.
Merendahkan dengan Kalimat Buruk
Jika saat kamu bertengkar dengan pasangan dengan menggunakan kata-kata kasar atau mengejek, memaki, dan merendahkan pasangan juga jadi ciri-ciri orang yang toxic. Padahal tanpa perlu menggunakan kata kasar dan ejekan, kalian bisa membicarakan masalah dengan baik.
Tidak Menghargai Batasan
Mengabaikan privasi dan menuntut pasangan selalu menuruti semua keinginan adalah tindakan yang tidak tahu batasan. Padahal setiap orang itu punya hak atas privasi dan kebebasannya sendiri.
Sulit Intropeksi
Orang toxic sering kali tidak merasa bahwa dirinya bermasalah. Mereka cenderung merasa benar dan enggan untuk memperbaiki diri. Jadi pasangannya yang terus-terusan mengalah akan perilaku si toxic.
Kalau tanda-tanda di atas terasa familiar, itu bisa menjadi kabar baik sekaligus tantangan untuk kamu. Menjadi kabar baik karena menyadari masalah adalah langkah pertama untuk berubah. Menjadi tantangan karena perubahan yang dilakukan membutuhkan usaha.
Ingat ya! Ngaku kamu punya sisi toxic bukan berarti kamu orang jahat. Toxic itu juga bukan identitas, tapi pola yang bisa diubah. Jadi jangan takut mengakui kalau kamu punya sisi itu. Dengan nyadar lebih dulu, peluang buat punya hubungan lebih sehat dan nyaman jadi makin besar.
Penulis: Karunia Syifa Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Karen Wibi