Apa itu Brainrot?
Konten dan konsep brainrot sempat viral beberapa waktu lalu. Bahkan, brainrot menjadi Word of The Year Oxford 2024, dan pada tahun ini para tenaga pendidik kebingungan ketika murid mereka bertanya siapa Italian brainrot favorit mereka. Konten anomali mungkin terlihat receh dan tidak penting. Padahal, konten-konten tersebut punya dampak negatif yang signifikan.
Brainrot secara harfiah berarti pembusukan otak. Bukan sekadar konten anomali Tung Tung Tung sahur dan Italian brainrot lain yang Anda kenal di dunia maya. Kondisi ini mengakibatkan penurunan fungsi kognitif. Akibatnya, Anda akan susah fokus, mudah lupa, kemampuan berpikir menurun, dan sering menunda. Brainrot dipicu oleh perilaku yang konsumtif terhadap konten pendek secara berlebihan, seperti konten tiktok, Instagram reels, meme, dan konten receh lain.
Bagaimana Bisa?
Jebakan Dopamin dan Attention Hijacking
Pernah mendengar dopamin? Sederhananya dopamin adalah hormon dalam otak yang dapat membuat Anda bahagia. Jika Anda mengonsumsi konten pendek secara berlebihan, dopamin akan terbiasa dengan kesenangan yang instan. Otak menjadi malas melakukan aktivitas yang membutuhkan usaha seperti membaca, melihat video berdurasi panjang, dan belajar. Aktivitas yang membutuhkan upaya menjadi kurang memotivasi.
Beban Kognitif Berlebih
Otak manusia memiliki kapasitas untuk memproses informasi. Ia tidak bisa memproses banyak informasi dalam satu waktu. Ketika Anda menggulir berbagai konten pendek dengan rangsangan visual dan auditori otak akan kelebihan beban cognitive overload.
Begitupun dengan perhatian. Aspek ini juga sumber yang terbatas. Jika digunakan secara terus menerus untuk memroses konten singkat yang Anda tonton sumber ini bisa habis. Dampaknya kemampuan yang melibatkan perhatian dan pemikiran mendalam seperti crithical thinking maupun berkonsentrasi pada materi akademik yang kompleks akan sangat menurun.
Apakah Brainrot Berbahaya?
Sangat berbahaya. Sudah banyak penelitian yang membahas dan membuktikan fenomena ini. Brainrot (pembusukan otak) memiliki dampak negatif yang signifikan terutama pada fungsi kognitif dan akademik.
Penunrunan konsentrasi dan menurunnya kemampuan berpikir kritis adalah masalah serius bagi pelajar maupun mahasiswa. Dalam dunia akademik kemampuan memproses informasi yang kompleks dan ketahanan fokus sangat dibutuhkan. Jurnal berjudul "Impact of Short Reels on Attention Span and Academic Performance of Undergraduate Students" mengungkap bahwa dengan paparan short reels intensitas tinggi mengalami penurunan rentang fokus dan GPA yang signifikan.
Dampak pada Aspek Akademik
Penurunan Prestasi Akademik
Risiko nyata yang dihasilkan dari konsumsi video pendek yang berlebihan adalah menurunnya prestasi akademik. Jika pelajar sulit konsentrasi, tidak mampu memproses informasi kompleks, tidak tahan dengan materi dan bacaan panjang, sudah tentu prestasi akan menurun.
Kesulitan Belajar Mendalam
Berpikir kritis dan mendalam sangat dibutuhkan dalam dunia akademik. Pelajar secara otomatis akan mengalami kesulitan transisi dari aktivitas digital dengan kesenangan instan ke tugas belajar konvensional yang memerlukan pemikiran mendalam.
Keterbatasan Berpikir Kritis
Video pendek dengan algoritmik yang monoton akan membatasi pelajar pada ide-ide segar dan sudut pandang yang beragam. Hal ini menghambat kemampuan mereka untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis.
Keengganan dan Tingkat Stres Meningkat
Pelajar akan menunjukkan tanda-tanda peningkatan stres ketika dihadapkan pada tugas yang menuntut fokus mendalam dan berkelanjutan
Bagaimana Cara Menyembuhkan Brainrot?
Kabar baiknya, kondisi ini tidak permanen. Otak kita bersifat elastis karena memiliki neuroplasticity. Ia akan berperan dalam membentuk jalur saraf baru untuk Kembali membangun fokus dan kemampuan berpikir mendalam.
Membatasi Screen Time dan Scrolling Video Pendek
- Tentukan durasi untuk membuka hp dan scroll video pendek
- Manfaatkan aplikasi pengunci untuk Latihan membatasi diri
Latihan deep work untuk melatih fokus
- Dedikasikan waktu belajar tanpa distraksi atau gangguan apapun. Misalnya, menggunakan Teknik pomodoro
- 25 menit fokus + 5 menit istirahat, ulangi beberapa kali.
Membaca buku
- Membaca buku akan melatih otak untuk berpikir lambat dan bertahan pada satu aktivitas.
- Manfaatnya, Anda bisa mengembalikan kemampuan berpikir kritis dan mendalam dengan car aini
Rutin Berolahraga
- Otak mempunyai BDNF (Brain Derived Neurotrophic Factor), yang dapat anda maksimalkan dengan berolahraga. Jika BDNF bekerja maksimal sel saraf otak akan berkembang secara maksimal pula.
- Membantu otak belajar lebih cepat, mengontrol emosi, dan meningkatkan mood.
Perhatikan konten yang dikonsumsi
- Berhenti mengonsumsi konten instan yang menimbulkan kecanduan dopamin.
- Pilih konten yang edukatif atau memberi nilai untuk diri sendiri.
Manfaatkan kekuatan neuroplasticity
- Otak bisa dilatih ulang untuk membentuk kebiasaan baru.
- Semakin sering kita melakukan kebiasaan baik, semakin kuat jalur saraf positif terbentuk.
Konten yang memicu terjadinya brainrot (pembusukan otak) banyak ditemui di Instagram reels, tiktok, dan youtube short. Para anak-anak dan remaja yang masih duduk di bangku pendidikan menempati posisi teratas pengguna beberapa aplikasi ini. Memahami bagaimana gejala dan dampak yang ditimbulkan dari paparan konten tersebut membantu Anda untuk membatasi diri dan memulihkan Kembali fungsi otak Anda.
Artikel ini ditulis oleh Widia Isnaini Rochmatun Nikmah Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Karen Wibi