NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Sungguh malang nasib yang dialami oleh Mahendra Sanjaya, 17, warga Kelurahan Kramat, Kecamatan Nganjuk. Dia tewas dikeroyok tiga temannya. Masalahnya sepele. Mahendra dianggap terlalu berisik saat main Mobile Legends.
Peristiwa mengenaskan itu terjadi pada Sabtu malam (22/9). Awalnya, Mahendra dan tiga temannya yaitu Muhammad Fahrul Afandi, 20, warga Desa Karangsono, Kecamatan Loceret; Khoirul Anam, 22, warga Desa Kates, Kecamatan Pace; dan AQ, 16, warga Desa Ngrengket, Kecamatan Sukomoro, bermain Mobile Legends. Mereka main Mobile Legends di rumah AQ. Sambil bermain, keempat pemuda itu minum minuman keras (miras).
Saat bermain games online di smartphone tersebut, Mahendra dianggap berisik. Dia sering berteriak. Akibatnya, adik AQ yang tidur di kamar menjadi bangun. Hal itu membuat AQ dan dua temannya mengingatkan Mahendra. Mereka melarang remaja yang berasal dari keluarga broken home itu untuk tidak bereaksi berlebihan saat bermain games. “Korban tidak menggubris meski sudah diperingatkan tiga pelaku,” ujar Kasatreskrim Polres Nganjuk AKP Julkifli Sinaga kemarin.
Karena jengkel dan terpengaruh miras, Fahrul, Khoirul, dan AQ akhirnya adu mulut dengan Mahendra. AQ berniat menghajar Mahendra. Namun, karena di rumahnya, kedua teman AQ melarang memukul Mahendra. Mereka akhirnya mengatur strategi.
Mahendra diajak ketiga temannya itu mengamen di traffic light Kelurahan Begadung. Karena selama ini, empat pemuda tersebut hidup di jalanan seperti anak punk. Mereka mengamen setiap hari.
Setelah satu jam mengamen, Mahendra dipanggil AQ ke belakang toko baju. Di sana, ternyata Mahendra dikeroyok tiga temannya tersebut. Pukulan dan tendangan mendarat telak di tubuh Mahendra. Saat Mahendra dalam kondisi tak sadarkan diri, tiga temannya baru berhenti memukul dan menendang.
Mereka menjadi khawatir dengan kondisi Mahendra. Dalam kondisi panik, Mahendra dibawa ke Rumah Sakit Daerah (RSD) Nganjuk. Sayang, kondisi sudah kritis. Pada Minggu siang (22/9), Mahendra meninggal dunia.
Banyaknya luka yang dialami Mahendra ini membuat petugas di RSD Nganjuk curiga. Mereka langsung melapor ke polisi. “Setelah dapat laporan, kami segera melakukan penyelidikan,” ujar Sinaga.
Saat di rumah sakit, polisi menginterogasi Fahrul, Khoirul, dan AQ. Namun, mereka mengelak mengeroyok Mahendra. Ketiganya berdalih jika yang mengeroyok temannya itu orang tidak dikenal.
Namun, polisi tidak percaya begitu saja. Saat dicek pesan WhatsApp (WA) ketiga pelaku, polisi mendapatkan pesan jika mereka membuat kesepakatan untuk tidak mengaku ke polisi. “Setelah menemukan pesan di WA, mereka langsung kami amankan,” tandas Sinaga.
Ketiga pelaku digelandang ke Mapolres Nganjuk. “Kami sangat menyesal telah mengeroyoknya,” ungkap Fahrul saat ditemui di Mapolres Nganjuk kemarin.
Menurut Fahrul, sebenarnya mereka tidak berniat Menghilangkan Nyawa Mahendra. Mereka hanya ingin memberi pelajaran dengan mengeroyoknya. “Setiap mabuk itu selalu resek soalnya,” ujarnya.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk