Insiden Kapal Feri Kehabisan Bahan Bakar di Perairan Banyuwangi: Sapi Mati dan Harus Dibuang ke Laut
Elna Malika• Jumat, 2 Mei 2025 | 22:17 WIB
Insiden Kapal Feri Kehabisan Bahan Bakar di Perairan Banyuwangi: Sapi Mati dan Harus Dibuang ke Laut
JP Radar Nganjuk – Sebuah insiden mengejutkan terjadi di perairan Banyuwangi ketika sebuah kapal feri yang mengangkut penumpang dan kargo, termasuk ternak, kehabisan bahan bakar di tengah perjalanan.
Kejadian ini tidak hanya menyebabkan kapal terhenti di laut, tetapi juga mengakibatkan kematian beberapa ekor sapi yang diangkut, yang kemudian terpaksa dibuang ke laut oleh awak kapal.
Peristiwa ini terjadi beberapa waktu lalu di jalur penyeberangan yang menghubungkan Banyuwangi dengan wilayah lain, seperti Bali atau Lombok.
Kapal feri tersebut dilaporkan berhenti beroperasi setelah cadangan bahan bakarnya habis, meninggalkan penumpang dan kru dalam situasi sulit.
Meski tidak ada laporan korban jiwa dari penumpang, insiden ini berdampak fatal pada ternak yang diangkut, khususnya sapi.
Diduga, kematian sapi-sapi tersebut disebabkan oleh kombinasi kurangnya ventilasi, kepanikan, dan kondisi lingkungan yang memburuk selama kapal tidak bergerak.
Menurut keterangan dari otoritas pelabuhan setempat, awak kapal terpaksa mengambil langkah sulit dengan membuang bangkai sapi ke laut.
Tindakan ini dilakukan untuk mencegah risiko penyebaran penyakit dan menjaga kebersihan kapal, sesuai dengan prosedur penanganan kargo ternak yang mati di laut.
Namun, keputusan ini memicu perhatian publik terhadap isu pengelolaan transportasi laut, terutama terkait kesiapan bahan bakar dan perawatan ternak selama perjalanan.
Insiden ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi operator kapal feri di wilayah dengan lalu lintas penyeberangan yang sibuk seperti Banyuwangi.
Pelabuhan Ketapang, yang menjadi salah satu pusat penyeberangan utama, kerap melayani ribuan penumpang dan kendaraan setiap harinya.
Kejadian seperti ini menimbulkan pertanyaan tentang pengawasan terhadap kelaikan kapal dan perencanaan logistik, termasuk pengelolaan bahan bakar untuk perjalanan jarak jauh.
Pihak PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), yang mengelola sejumlah layanan feri di Indonesia, belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini.
Namun, kejadian ini telah memicu diskusi di kalangan masyarakat lokal dan pengguna jasa feri tentang perlunya peningkatan standar operasional kapal.
Beberapa warga menyatakan kekhawatiran bahwa insiden serupa dapat terulang jika tidak ada perbaikan dalam manajemen dan pengawasan.
Hingga kini, penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan untuk menentukan penyebab pasti kapal kehabisan bahan bakar dan langkah apa yang akan diambil untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapan teknis dan logistik dalam transportasi laut, demi menjaga keselamatan penumpang, kru, dan kargo yang diangkut.