JP Radar Nganjuk - Ponorogo, Jawa Timur, dikejutkan oleh insiden tragis yang menimpa dua pelajar SMP pada Rabu malam, 28 Mei 2025. Dua remaja berinisial YSF dan DI, keduanya berusia 14 tahun, mengalami luka bakar serius akibat ledakan petasan yang mereka racik sendiri.
Peristiwa ini terjadi di Jalan Irawan, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Ponorogo, sekitar pukul 23.30 WIB. Kedua korban kini menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Harjono Ponorogo.
Kejadian bermula saat YSF, DI, dan tiga teman lainnya berkumpul di rumah YSF untuk meracik mesiu dan membuat petasan. Mereka berencana menggunakan petasan tersebut bersama balon udara untuk merayakan Hari Raya Iduladha.
Namun, proses peracikan berujung bencana ketika diduga terjadi benturan yang memicu ledakan.
“Suaranya terdengar keras. Ada dua korban sudah dibawa ke rumah sakit,” ujar Langgeng Widodo, Ketua RT setempat, menggambarkan kepanikan warga saat mendengar ledakan.
Ledakan tersebut menyebabkan luka bakar parah pada YSF dan DI, terutama di bagian mata, tangan, dan kaki. Sementara itu, tiga anak lain yang berada di lokasi hanya mengalami luka ringan dan telah diperbolehkan pulang.
“Yang dua luka berat dan saat ini menjalani perawatan di RSUD Harjono. Yang tiga sudah boleh pulang,” kata Kasatreskrim AKP Rudy Hidajanto dari Polres Ponorogo.
Luka pada korban berat meliputi area mata, alat kelamin, dan kaki kanan, menunjukkan betapa seriusnya dampak ledakan ini.
Pihak kepolisian segera turun ke lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Penyelidikan masih berlangsung untuk menentukan penyebab pasti ledakan.
Polisi menduga adanya kesalahan dalam proses pencampuran bahan peledak yang dilakukan secara amatir oleh para pelajar. Barang bukti seperti bubuk mesiu dan selongsong petasan telah diamankan untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut.
Insiden ini bukanlah yang pertama di Ponorogo. Pada April 2021, dua bersaudara, Sunardi (23) dan Samuri (21), tewas akibat ledakan petasan di Desa Sukorejo.
Kapolres Ponorogo saat itu, AKBP Mochamad Nur Azis, menyebutkan bahwa ledakan terjadi karena percikan api yang mengenai bubuk mesiu saat mereka meracik petasan.
“Jadi hancur, putus kakinya, mulai dari paha ke bawah,” ujar Azis, menjelaskan kondisi tragis salah satu korban.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan bahaya petasan yang sering dianggap sepele.
Menurut laporan, petasan di Ponorogo sering kali dirancang untuk digunakan bersama balon udara, tradisi yang populer di beberapa daerah saat perayaan seperti Iduladha. Namun, tradisi ini kerap berujung pada kecelakaan.
Pada Mei 2024, empat remaja di Ponorogo juga terluka akibat ledakan balon udara berisi petasan jumbo, dengan luka bakar hingga 63 persen. Insiden ini menunjukkan risiko tinggi dari aktivitas merakit petasan tanpa pengawasan atau keahlian memadai.
Orang tua dan masyarakat setempat kini diimbau untuk lebih waspada terhadap aktivitas anak-anak, terutama menjelang hari raya.
“Kami imbau kepada para orang tua agar mengawasi dan melarang anak-anaknya bermain petasan. Ini demi keselamatan mereka,” ujar Kapolsek Sumobito, AKP Bagus Tejo Purnomo, dalam kasus serupa di Jombang.
Pernyataan ini relevan dengan kejadian di Ponorogo, di mana kurangnya pengawasan menjadi salah satu faktor penyebab tragedi.
Dampak psikologis dari insiden ini juga tidak bisa diabaikan. Orang tua kedua korban dilaporkan mengalami syok berat. Dalam kasus sebelumnya di Ponorogo, Kapolsek Sukorejo, AKP Beny Hartono, menyatakan bahwa ibu dari korban yang tewas pada 2021 “belum bisa menerima” kehilangan anak-anaknya.
Situasi serupa kemungkinan dirasakan oleh keluarga YSF dan DI, yang kini harus menghadapi proses pemulihan panjang anak-anak mereka.
Pemerintah daerah dan kepolisian di Ponorogo telah berulang kali mengeluarkan larangan terhadap pembuatan dan penggunaan petasan karena risiko bahayanya. Namun, bahan-bahan seperti bubuk mesiu masih mudah didapat, baik melalui pasar tradisional maupun daring.
Dalam kasus di Malang pada Maret 2025, polisi menemukan bahwa anak-anak membeli serbuk petasan secara online, yang kemudian memicu ledakan saat dirakit. Hal ini menunjukkan perlunya pengawasan ketat terhadap peredaran bahan peledak.
Kejadian ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat, khususnya para orang tua, untuk mencegah anak-anak terlibat dalam aktivitas berbahaya seperti merakit petasan.
Edukasi tentang risiko petasan dan pengawasan ketat terhadap anak-anak harus menjadi prioritas. Dengan meningkatnya kasus serupa, diharapkan ada langkah konkret dari pihak berwenang untuk membatasi akses terhadap bahan peledak dan mengedukasi masyarakat tentang bahayanya, agar tragedi seperti ini tidak terulang di masa depan.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira