NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Puluhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Rutan Kelas IIB Nganjuk belajar membaca Alquran. Kemarin, sebagian dari mereka mengikuti wisuda Khataman Alquran. Karena mereka telah dinyatakan bisa menghafal Juz Amma selama menjalani hukuman di penjara.
Para WBP menggunakan pakaian seragam baju rapi lengkap dengan peci. Mereka diberikan kalung tanda kelulusan dan mendapatkan sertifikat yang berisikan sudah Khatam Alquran. Para keluarga yang menyaksikan WBP ini membaca kemudian mengikuti prosesi wisuda nampak terharu. Beberapa diantaranya nampak meneteskan air mata seolah bersyukur karena keluarga mereka bisa berperilaku baik.
Kepala Rutan Kelas IIB Nganjuk Arief Budi Prasetya menjelaskan, wisuda Akbar Tahfidz Alquran merupakan momentum yang sangat istimewa. Dimana kegiatan ini merupakan bukti nyata atas usaha yang dikerjakan oleh WBP. “Adanya kegiatan ini juga sebagai bentuk penghargaan kepada teman-teman,” ujar Arief.
Untuk diketahui, saat ini Rutan Kelas IIB Nganjuk berisikan 402 warga binaan. Setiap harinya ada kegiatan pondok pesantren yang diikuti sekitar 60 WBP. Kemarin, ada 36 WBP yang sudah lulus Khataman Alquran.
Arief menambahkan, rutan bukan hanya tempat untuk menjalani masa hukuman tetapi juga menjadi tempat pembinaan spiritual bagi warga binaan. Dengan adanya pembinaan Pondok Pesantren Darul Iman ini pihaknya juga sangat terbantu dengan Yayasan Maratin. “Program seperti ini adalah sarana yang luar biasa untuk membentuk karakter dan kepribadian, yang lebih baik bagi warga binaan,” tambahnya.
Ke depan, Arief memiliki komitmen untuk memberikan nilai plus kepada WBP yang mengikuti program-program dariu Rutan Nganjuk. salah satunya pondok pesantren. Hal tersbeut nantinya akan memberikan nilai untuk WBP yang pantas untuk untuk menerima remisi, pembebasan bersyarat atau cuti bersyarat.
Salah satu WBP yang mengikuti proses wisuda khataman Muhammad Hakim, 28, mengaku bangga bisa membaca Alquran. Sebab sebelum masuk penjara, ia belum bisa. “Alhamdulillah sekarang sudah bisa baca Alquran,” ujarnya.
Pria asal Kertosono itu mengaku setelah dia keluar dari penjara, ia ingin menjadi ustad yang mengajar membaca Alquran. Ia pun juga banyak belajar selama mendekam di penjara. “Tidak ada kata terlambat untuk bertobat,” pungkasnya. (nov/tyo)
Editor : Jauhar Yohanis