Duka Mendalam Keluarga Enik Mulya Ningsih, Korban Perampokan di Ngronggot. Janji Nonton Wayang Batal
Rully Prasetyo• Selasa, 26 Agustus 2025 | 14:00 WIB
TINGGAL KENANGAN: Jumadi foto bersama Enik Mulya Ningsih, istrinya.
Duka Mendalam Keluarga Enik Mulya Ningsih, Korban Perampokan di Ngronggot
Meninggalnya Enik Mulya Ningsih membuat keluarganya sangat kehilangan. Ibu tiga anak itu mengembuskan napas terakhirnya dalam kondisi tragis. Dia dibunuh M. Ali, warga Desa Drenges, Kecamatan Kertosono di rumahnya. Padahal, Jumadi, suami Enik sudah berjanji akan mengajak lihat wayang setelah pulang kerja memijat.
Malam itu, Jumadi, 59, tak pernah menduga kepulangannya dari memijat tetangga desa akan mengubah hidupnya. Biasanya, rumahnya di Dusun Sumberkepuh, Desa Klurahan, Kecamatan Ngronggot, selalu terasa hangat dengan kehadiran istrinya, Enik Mulya Ningsih, 55. Namun Jumat (15/8) malam, suasana rumah itu berubah jadi mencekam.
Pukul 20.00 WIB, Jumadi baru saja selesai menjalani pekerjaannya sebagai tukang pijat. Ia bergegas pulang. Sesampainya di halaman, pandangannya tertuju pada pintu rumah yang terbuka setengah. “Saya kira cucu saya datang. Makanya saya masuk saja tanpa curiga,” ucapnya.
Langkah kakinya menuju kamar seketika terhenti. Di depan mata, ia mendapati istrinya tergeletak tertelungkup di lantai.
Dari mulutnya keluar suara mendengkur. Kepalanya tertutup jaket berwarna cokelat. Dengan spontan, Jumadi berusaha membangunkan. “Saya pikir istri saya hanya tertidur, ya saya bangunkan. Buk ayo pindah ndek kasur,” tambahnya.
Namun, tak ada respons. Saat jaket itu dibuka, pandangannya langsung kabur. Di sekitar kepala Etik ada darah. “Saya langsung panik, minta tolong warga,” kenangnya.
Kepanikan makin menjadi ketika Jumadi mendapati tas milik istrinya yang biasa diletakkan di samping kasur hilang. Tas itu berisi uang Rp 150 juta. “Uang itu kami kumpulkan untuk membeli tanah. Hasil menjual perhiasan istri dan tabungan kerja saya,” bebernya.
Jumadi tak menyangka, niat membeli tanah justru berujung tragedi. Padahal, tambahan pinjaman dari bank sudah disiapkan.“Belum sempat kami tarik uang pinjamannya,” tambahnya.
Lokasi rumah korban berada di tepi jalan desa yang sepi saat malam. Di samping kiri rumah, hanya hamparan sawah luas. Tidak ada tetangga yang mendengar kegaduhan ketika pelaku melancarkan aksinya. “Desa kami sepi kalau malam,” kata Jumadi.
Malam itu juga, dengan bantuan warga, Enik dilarikan ke RSD Kertosono. Kondisinya kritis. Sehari berselang, tim medis merujuknya ke RSUD Jombang. Di sana, Enik berjuang melawan rasa sakit. Namun, Selasa (19/8) nyawanya tak tertolong. “Padahal saya meninggalkan rumah itu Cuma sebentar. Biasanya saya tinggal sampai malam, aman-aman saja,” paparnya.
Jumadi tak menduga kejadian tersebut. Sebab, ia sudah berjanji. Sebelum pergi memijat ke luar desa, dia akan mengajak istri untuk melihat pertunjukan wayang kulit. “Padahal saya sudah janji mau nonton wayang sama istri saya habis memijat tapi semuanya tak kesampaian,” kenangnya. (tyo)