Motor Diduga Milik Penyelundup Sabu Diamankan Rutan Nganjuk
NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Upaya penyelundupan narkoba ke Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Nganjuk kembali terjadi. Beruntung, petugas berhasil menggagalkan. Jika sebelumnya, petugas menggagalkan perkedel rasa 100 butir pil dobel L, pada Selasa siang (16/9), giliran sabu-sabu (SS) yang digagalkan masuk rutan.
Kejadian itu bermula saat petugas melakukan pemeriksaan rutin terhadap barang bawaan pengunjung. Kecurigaan muncul ketika mereka memeriksa celana. Saat diraba, saku celana terasa janggal. Petugas kemudian membuka saku celana tersebut. Hasilnya, ditemukan bungkusan kecil yang berisi kristal putih yang mirip sabu-sabu.
Untuk memastikan, petugas langsung menanyakan barang tersebut kepada pengunjung yang menitipkan. Namun, bukannya memberi penjelasan, pengunjung justru memilih diam lalu kabur meninggalkan lokasi. Petugas segera melaporkan kejadian itu ke staf keamanan. Upaya pengejaran dilakukan, tetapi pengunjung tersebut berhasil meloloskan diri.
“Yang bersangkutan langsung melarikan diri sampai sandalnya lepas,” ujar Kepala Rutan Kelas IIB Nganjuk Arief Budi Prasetya.
Baca Juga: Fenomena Baru! Ratusan Warga Nganjuk Ramai-Ramai Ubah Agama Jadi Kepercayaan di KTP
Barang bukti langsung diamankan. Pihaknya langsung berkoordinasi dengan Satresnarkoba Polres Nganjuk. Tim kepolisian kemudian datang untuk melakukan identifikasi barang bukti.
Tak hanya barang bukti berupa sabu dan celana, namun petugas Rutan juga mengamankan satu sepeda motor yang diduga milik pelaku. Motor tersebut terparkir di parkiran Rutan Nganjuk. “Setelah penutupan layanan itu ada satu motor yang masih terparkir, diduga itu milik yang bersangkutan. Saat ini motor tersebut masih kami amankan,” papar Arief.
Arief menyebut, keberhasilan ini berkat ketelitian petugas yang tetap waspada. “Ini komitmen kami untuk mencegah peredaran narkoba di dalam rutan. Pengawasan akan terus kami perketat,” tegasnya.
Kasus penyelundupan narkoba melalui barang titipan memang menjadi tantangan tersendiri. Modus yang digunakan para pelaku kerap berubah-ubah. Barang terlarang biasanya disamarkan di dalam makanan, hingga pakaian. Meski demikian, pengawasan berlapis dan pemeriksaan detail membuat setiap celah berusaha ditutup. “Kasus ini juga kami laporkan ke polisi,” pungkasnya. (nov/tyo)
Editor : Miko