Novanda Nirwana• Kamis, 18 Desember 2025 | 21:15 WIB
BEBER BUKTI: Salah satu korban penipuan arisan bodong Kediri menunjukkan bukti arisan.
Tujuh Warga Nganjuk Jadi Korban Arisan Bodong Kediri
Korban arisan bodong Kediri tidak hanya warga Kediri. Namun, tujuh warga Kabupaten Nganjuk juga menjadi korbannya. Uang ratusan juta rupiah lenyap tak tersisa.
NOVANDA NIRWANA-NGANJUK,JP Radar Nganjuk
Kepercayaan arisan dengan profit besar untuh di awal Desember. Tujuh orang korban arisan bodong asal Nganjuk memutuskan mendatangi Polres untuk melaporkan Nanda Silvany Tiarawati, 26, warga Kota Kediri. Perempuan yang selama ini dikenal aktif berjualan baju thrift di media sosial itu diduga menjadi pelaku arisan bodong dengan total kerugian yang ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Salah satu korban, SI, 30, warga Kecamatan Nganjuk, masih mengingat jelas awal mula dirinya terjerat. Ia mengenal Nanda sejak pelaku berjualan pakaian thrift secara daring.“Awalnya jualan baju, terus akhir-akhir ini kok sering posting arisan,” ujarnya.
Postingan itu bukan sekadar promosi. Setiap hari, Nanda rutin mengunggah story berisi bukti mutasi transfer dari para peserta arisan.
Angkanya beragam, nilainya besar.“Jadi kelihatan terpercaya,” kata SI.
Skema arisan itu sederhana namun menggiurkan. Peserta membeli slot arisan seharga Rp 800 ribu dan dijanjikan menerima Rp 1 juta di tanggal yang telah ditentukan. Nominal slot bervariasi, mulai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.“Get-nya beda-beda, dari Rp 800 ribu sampai Rp 20 juta,” jelasnya.
Sejak akhir Agustus hingga November, arisan tersebut tampak berjalan lancar. Transfer masuk rutin setiap bulan. Bahkan, SI mengaku sempat menjual kembali slot arisan kepada orang lain. “Sama Nanda boleh kalau kita ngejual, asal izin,” tuturnya.
Keuntungan besar membuat banyak orang tergiur. Slot Rp 3 juta bisa dijual kembali Rp 1,5 juta dengan laba cepat.“Orang-orang tergiur labanya itu,” imbuhnya.
Masalah mulai muncul di awal Desember. Transfer yang biasanya cair mulai macet. Terakhir, SI masih menerima transfer pada 10 Desember. Namun keesokan harinya, dana tak kunjung masuk.“Saya chat, ‘mbak tanggal 11 saya motel kok nggak ditransfer,’” ujarnya.
Malam itu, SI menunggu hingga dinihari. Pukul 02.00 WIB, transfer tak kunjung datang. Paginya, Nanda menghubungi SI dan beberapa korban lainnya, mengajak bertemu di sebuah kafe di Kediri. Pesan singkat itu membuat firasat SI berubah.“Dia bilang, ‘mbak arisanku kolep, sampean iso rene ga,’” kenangnya.
Di kafe tersebut, SI mendapati sejumlah korban lain. Di hadapan mereka, Nanda menyampaikan arisan mengalami kolaps. Ia mengaku tetap ingin bertanggung jawab, namun hanya sanggup mengembalikan modal dan itu pun meminta waktu. Alasannya, dana macet karena tiga depo yang disebut-sebut sebagai sumber putaran arisan. “Saat itu kelihatannya masih ada itikad baik,” ujar SI.
Namun situasi berubah cepat. Tekanan dari para korban kian besar. Pelaku disebut-sebut kebingungan hingga akhirnya menghilang. Kabar terakhir, Nanda meninggalkan rumah dengan alasan menuju depo di Jombang. Nyatanya, ia tak berada di sana.
Kerugian yang dialami SI mencapai Rp 126,5 juta. Jumlah itu bukan hanya uang pribadinya. “Itu bukan uang saya aja, soalnya saya juga ngejual ke orang lain,” katanya.
Total kerugian seluruh korban ditaksir mencapai Rp 5 miliar. Jaringannya meluas lintas daerah, mulai Kediri, Nganjuk, Blitar, Tulungagung, Surabaya, hingga Bali dan Jawa Tengah. Korbannya beragam, namun sebagian besar berusia lanjut.“Kebanyakan itu korbannya tua-tua, karena memang menggiurkan,” ungkapnya.
Ia sendiri mengaku sempat mempertanyakan keputusannya. Mengapa bisa mempercayakan uang dalam jumlah besar tanpa perjanjian tertulis. Jawabannya kembali pada citra pelaku.“Testimoninya meyakinkan. Tiap hari upload bukti transfer. Dia juga punya mobil, punya toko. Image-nya nggak mungkin dia ruwet,” ucapnya.
Demi mengikuti arisan, SI bahkan menjual motor dan perhiasan. Modal yang digunakan pun sebagian berasal dari suaminya.“Story dia itu pokoknya meyakinkan, bilang kalau dia amanah seribu persen,” katanya.
Kini, kepercayaan itu berubah. Tujuh korban melaporkan kasus tersebut ke polisi. Harapannya satu. Uang kembali. (tyo)