Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Sedih karena Kehilangan Tulang Punggung Keluarga

Karen Wibi • Sabtu, 17 Januari 2026 | 08:39 WIB

BERDUKA CITA: Siti Kunizakiah, kakak Nabil menunjukkan foto adiknya semasa hidup. Siti minta pelaku dihukum berat karena telah menyebabkan tulang punggung keluarga meninggal.
BERDUKA CITA: Siti Kunizakiah, kakak Nabil menunjukkan foto adiknya semasa hidup. Siti minta pelaku dihukum berat karena telah menyebabkan tulang punggung keluarga meninggal.

M. Nabil Kholili, Korban Tewas Pengeroyokan di Ngepung

Kematian M. Nabil Kholili sangat menyayat hati. Karena keluarga asal Kecamatan Berbek itu tidak hanya kehilangan satu anggota keluarga. Namun, kehilangan tulang punggung keluarga.

KAREN WIBI-NGANJUK, JP Radar Nganjuk

Korban pengeroyokan hingga tewas di Desa Ngepung, Kecamatan Patianrowo itu adalah M. Nabil Kholili. Pemuda berusia 20 tahun  meninggal dunia pada Selasa lalu (13/1). Kematiannya sangat menyayat hati. Bukan hanya karena Nabil meninggal dunia setelah dikeroyok orang tak dikenal di Desa Ngepung, Kecamatan Patianrowo. Namun juga karena keluarga kecil itu akhirnya harus kehilangan tulang punggung keluarga.

Ya, meski baru berusia 20 tahun, pemuda asal Desa Maguan, Kecamatan Berbek itu sudah menjadi tulang punggung keluarga. Hal itu terjadi setelah Nabil ditinggal oleh sang ayah sekitar tiga tahun lalu. Setelah lulus dari bangku SMA, Nabil langsung menjadi tulang punggung untuk membantu sang ibu.

Hal itu seperti yang diceritakan oleh kakak korban bernama Siti Kunizakiah. Perempuan berusia 35 tahun itu menceritakan, Nabil adalah anak keempat dari lima bersaudara. Dari kelima anak itu, Nabil menjadi satu-satunya anak laki-laki. “Semuanya perempuan, hanya Nabil yang laki-laki,” ujarnya saat ditemui di rumah duka pada Rabu kemarin (14/1).

Dulu Nabil hidup seperti remaja laki-laki pada umumnya. Namun semua berubah ketika Nabil dan empat saudaranya ditinggal oleh sang ayah. Kejadian itu terjadi sekitar tiga tahun lalu. Otomatis tulang punggung keluarga bergeser ke sang ibu.

Tentu, Nabil tak tega melihat ibunya menjadi tulang punggung keluarga. Hingga setelah lulus SMA, Nabil memutuskan untuk mengambil peran berat itu. Nabil tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Dia memilih untuk bekerja. “Saat itu di rumah masih ada ibu dan satu adik Nabil. Kehidupan sehari-hari dicukupkan oleh Nabil,” tambahnya.

Hampir semua pekerjaan diambil oleh Nabil. Mulai dari ke sawah, kebun, hingga peternakan. Dengan tujuan agar sang ibu tidak perlu susah payah untuk menghidupi sang adik yang masih duduk di bangku SMA.

Namun petaka tiba pada Jumat lalu (9/1). Nabil menjadi korban pengeroyokan. Dia sempat dirawat. Sayang semuanya terlambat. Nabil menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (13/1). Di hari yang sama dia dimakamkan di rumahnya yang ada di Desa Maguan. “Padahal beberapa hari sebelumnya Nabil sempat menyiapkan selametan 1.000 hari bapak. Sekarang gantian Nabil yang tidak ada,” kenang Siti.

Kejadian itu benar-benar membuat satu keluarga kaget. Terlebih, menurut Siti, Nabil dikenal sebagai anak yang pendiam dan penurut. Mayoritas dia menghabiskan waktunya dengan bekerja. Hingga tiba-tiba saja, malam itu, Nabil pergi bersama teman-temannya untuk bermain.

Keluarga kecil itu kini tidak hanya kehilangan Nabil. Namun juga kehilangan tulang punggung keluarga dan adik tersayang. Hal itu juga yang membuat Siti berharap pihak kepolisian menindak tegas pelaku pengeroyokan. “Saya berharap pelaku pengeroyokan merasakan apa yang dirasakan oleh adik saya,” tegasnya. (tyo)

Editor : Karen Wibi
#korban pengeroyokan #nganjuk