NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Setelah berpuasa belasan jam, tubuh mengalami dehidrasi ringan. Es teh mungkin terasa menyegarkan, tapi kandungan kafein di dalamnya bisa mengganggu.
Kafein bersifat diuretik, artinya mendorong tubuh membuang cairan lebih cepat.
Alih-alih menghidrasi, minuman ini justru berisiko memperparah kekurangan air yang sudah ada. Padahal, saat berbuka, tubuh butuh asupan yang benar-benar mengembalikan cairan.
Suhu dingin dari es juga punya efek tersendiri. Lambung yang kosong seharian cenderung sensitif terhadap minuman bersuhu rendah.
Para ahli mencatat, asupan dingin bisa menyebabkan ketidaknyamanan seperti kembung atau sensasi tak enak di perut.
Air suhu ruang atau hangat, sebaliknya, lebih mudah diterima sistem pencernaan yang baru aktif kembali.
Lalu, ada soal gula yang biasanya melimpah dalam es teh. Rasa manis memang menggoda, tapi gula berlebih bisa memicu lonjakan gula darah yang cepat.
Ini kurang sesuai untuk tubuh yang baru mulai menyesuaikan diri setelah puasa.
Kurma dan air putih, yang jadi sunnah dalam tradisi berbuka, memberikan energi lebih stabil tanpa membebani metabolisme.
Es teh memang bukan larangan mutlak saat berbuka. Banyak orang meminumnya setiap hari tanpa masalah, tergantung kebiasaan dan kondisi fisik masing-masing.
Namun, pakar kesehatan menyarankan untuk memulai dengan air putih atau minuman hangat demi pemulihan optimal.
Es teh lebih cocok sebagai pelengkap setelah tubuh kembali stabil.
Minuman ini tetap populer di kalangan masyarakat. Meski begitu, untuk langkah awal buka puasa, ada pilihan yang lebih ramah bagi tubuh.
Setelah seharian berpuasa, prioritas seharusnya adalah hidrasi dan kenyamanan, bukan hanya kenikmatan sesaat. Es teh boleh dinikmati, tapi mungkin bukan di menit pertama. (ik5)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira