JP Radar Nganjuk - Siapa sangka garam yang kini mudah didapat dan murah, dulunya diperlakukan layaknya barang mewah. Di masa lalu, garam bahkan digunakan sebagai alat tukar hingga menjadi simbol kekuasaan.
Sejak zaman kuno, garam dianggap sebagai komoditas vital. Bukan hanya karena rasanya yang memperkaya masakan, tetapi juga karena fungsinya yang sangat penting: mengawetkan makanan.
Sebelum ditemukan kulkas dan pengawet modern, garam menjadi satu-satunya cara efektif menjaga ketahanan daging, ikan, dan bahan pangan lainnya.
Di era Kekaisaran Romawi, para prajurit legiun menerima sebagian upah mereka dalam bentuk garam.
Tunjangan ini disebut salarium, yang kemudian menjadi asal mula kata salary atau gaji. Ini menunjukkan betapa berharganya garam saat itu—bahkan bisa menggantikan uang.
Tak hanya di Eropa, di Afrika, garam juga memiliki nilai tukar yang sangat tinggi. Di beberapa wilayah Sub-Sahara, garam diperdagangkan dengan emas dalam jumlah setara.
Balok-balok garam diangkut melintasi gurun untuk ditukar dengan logam mulia. Garam sendiri berasal dari berbagai sumber alam. Ada yang berasal dari penguapan air laut, dikenal sebagai garam laut.
Ada pula yang ditambang langsung dari dalam bumi, sisa dari laut purba yang mengering jutaan tahun lalu. Garam juga bisa ditemukan di danau-danau asin yang airnya menguap saat musim kemarau.
Salah satu kota yang dikenal karena sejarah garamnya adalah Salzburg di Austria. Nama kota ini secara harfiah berarti “Kota Garam”, menandakan betapa pentingnya komoditas tersebut dalam pembentukan peradaban dan ekonomi wilayah tersebut.
Hingga kini, garam tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Meski harganya kini sangat terjangkau, nilai sejarah dan budaya yang melekat pada garam tetap menjadi cerita menarik tentang bagaimana sesuatu yang sederhana bisa mengubah arah sejarah.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira