JP Radar Nganjuk - Tuberkulosis (TBC) kembali menjadi perbincangan hangat di Indonesia, terutama setelah kabar bahwa Bill Gates, melalui Bill & Melinda Gates Foundation, menjadikan Indonesia sebagai salah satu lokasi uji coba vaksin TBC terbaru, M72/AS01E.
Dengan tingginya angka kasus TBC di Indonesianyang menempati peringkat kedua dunia dengan sekitar 1,09 juta kasus dan 125 ribu kematian pada 2023 menurut Global TB Report 2024 harapan terhadap vaksin ini pun meningkat.
Namun, di tengah sorotan terhadap vaksin tersebut, bagaimana sebenarnya pengobatan pasien TBC dilakukan saat ini? Artikel ini akan mengulas proses pengobatan TBC dan konteks uji coba vaksin tersebut.
TBC, yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, umumnya menyerang paru-paru, meskipun dapat menyebar ke organ lain seperti otak, tulang, atau ginjal.
Pengobatan TBC saat ini mengandalkan kombinasi antibiotik yang harus dikonsumsi dalam jangka waktu panjang, biasanya 6 hingga 9 bulan, tergantung pada tingkat keparahan dan jenis TBC (sensitif obat atau resisten).
Obat-obatan yang umum digunakan meliputi:
- Isoniazid: Antibiotik utama untuk membunuh bakteri TBC.
- Rifampicin: Membantu mencegah perkembangan bakteri.
- Ethambutol: Mencegah resistensi bakteri terhadap obat lain.
- Pyrazinamide: Efektif pada tahap awal pengobatan.
Pasien harus mematuhi jadwal minum obat secara ketat sesuai resep dokter. Ketidakpatuhan, seperti melewatkan dosis atau menghentikan pengobatan sebelum waktunya, dapat menyebabkan resistensi obat, yang dikenal sebagai TBC multidrug-resistant (MDR-TB).
MDR-TB lebih sulit diobati, membutuhkan waktu hingga 2 tahun dan obat-obatan yang lebih kuat dengan efek samping yang signifikan.
Selain pengobatan medis, pasien TBC juga perlu menjalani pola hidup sehat, seperti menjaga pola makan bergizi untuk memperkuat sistem imun, serta menghindari kontak dekat dengan orang lain untuk mencegah penularan.
Di fasilitas kesehatan, langkah pencegahan seperti ventilasi yang baik dan penggunaan alat pelindung diri juga diterapkan untuk mengurangi risiko penyebaran.
Saat ini, vaksin yang tersedia untuk TBC adalah Bacillus Calmette-Guérin (BCG), yang diberikan kepada bayi untuk mencegah bentuk TBC berat, seperti TBC milier atau meningitis TBC.
Namun, BCG kurang efektif melindungi remaja dan orang dewasa dari TBC paru, yang merupakan jenis paling umum. Inilah salah satu alasan mengapa pengembangan vaksin baru, seperti M72/AS01E, menjadi krusial.
Baca Juga: Bill Gates Beberkan Strategi Bangun Pembangkit Nuklir Hemat Biaya di Istana Negara
Vaksin M72/AS01E, yang awalnya dikembangkan oleh GlaxoSmithKline (GSK) dan kini dilanjutkan oleh Gates Medical Research Institute, sedang menjalani uji klinis fase 3 di tujuh negara, termasuk Indonesia.
Vaksin ini menggunakan protein fusi imunogenik (M72) dari dua antigen Mycobacterium tuberculosis dan adjuvan AS01E untuk memicu respons imun yang lebih kuat.
Uji coba fase 2b menunjukkan efikasi hingga 50-54% dalam mencegah TBC aktif pada orang dengan infeksi laten.
Indonesia, dengan beban TBC yang tinggi dan infrastruktur penelitian yang memadai, menjadi lokasi strategis untuk uji coba ini, yang melibatkan 2.500 subjek dari total 20.000 peserta global.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa uji coba ini bukan menjadikan masyarakat Indonesia sebagai “kelinci percobaan”.
Vaksin telah melalui tahap pengujian keamanan sebelumnya, dan Indonesia diuntungkan dengan akses awal terhadap teknologi vaksin serta potensi produksi lokal melalui Bio Farma jika uji coba berhasil.
Targetnya, vaksin ini dapat digunakan secara luas mulai 2028 untuk mendukung eliminasi TBC pada 2030.
Meskipun uji coba vaksin ini didukung oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Kementerian Kesehatan, tidak semua pihak menyambutnya dengan positif.
Sebagian masyarakat masih skeptis, dipengaruhi oleh teori konspirasi yang pernah muncul terkait vaksinasi, seperti tuduhan bahwa vaksin digunakan untuk kepentingan komersial atau bahkan mengandung mikrochip.
Pengalaman selama pandemi Covid-19, di mana 49,9% responden dalam survei UGM pada 2021 menolak vaksin Covid-19 karena hoaks, menunjukkan tantangan dalam membangun kepercayaan publik.
Untuk itu, edukasi yang transparan dan melibatkan tokoh masyarakat diperlukan agar uji coba vaksin TBC ini tidak disalahpahami.
Pengobatan TBC yang ada saat ini efektif jika dijalani dengan disiplin, tetapi tantangan seperti resistensi obat dan keterbatasan akses di daerah terpencil masih ada.
Vaksin M72/AS01E diharapkan menjadi terobosan, terutama untuk mencegah TBC pada kelompok usia yang tidak terlindungi oleh BCG.
Selain itu, upaya lain seperti peningkatan diagnosis dini, penyediaan obat gratis, dan kampanye kesadaran publik terus digalakkan pemerintah untuk menekan angka kasus.
Indonesia, sebagai salah satu negara dengan beban TBC tertinggi, memiliki kesempatan besar untuk memimpin perubahan melalui keterlibatan dalam uji coba vaksin ini.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan mitra global seperti Gates Foundation, harapan untuk mengurangi angka kematian akibat TBC yang saat ini mencapai satu orang setiap empat menit semakin nyata.
Editor : Elna Malika