JP Radar Nganjuk - Pernahkah Anda mendengar cerita tentang orang yang memakan daging biawak karena dianggap punya khasiat luar biasa?
Di beberapa daerah di Indonesia, biawak atau yang sering disebut nyambek diburu dan diolah menjadi hidangan ekstrem, dari sate hingga sup, dengan klaim bisa menyembuhkan berbagai penyakit.
Tapi, benarkah reptil yang sering ditemui di rawa dan sungai ini benar-benar bermanfaat untuk kesehatan, atau justru menyimpan risiko yang tidak terduga?
Meski terdengar aneh bagi sebagian orang, konsumsi daging biawak bukan hal baru.
Masyarakat di Asia, termasuk Indonesia, percaya bahwa daging ini bisa meningkatkan stamina hingga mengatasi masalah kulit.
Namun, di balik kepercayaan tradisional, ilmu pengetahuan masih meragukan manfaatnya dan justru memperingatkan bahaya tertentu.
Berikut adalah 5 fakta penting tentang manfaat dan risiko konsumsi daging biawak yang perlu Anda ketahui sebelum mencobanya:
- Sumber Protein untuk Stamina
Daging biawak mengandung protein tinggi, yang dipercaya dapat meningkatkan energi dan stamina.
Dalam 1 ons daging biawak, terdapat sekitar 50 kkal, setara dengan daging ayam. Protein ini membantu pembentukan otot dan perbaikan jaringan tubuh.
Beberapa masyarakat bahkan menganggapnya sebagai “booster” vitalitas, terutama untuk pria. Namun, klaim ini masih berdasarkan kepercayaan lokal dan belum didukung penelitian ilmiah yang kuat.
- Dipercaya Mengatasi Masalah Kulit
Di Indonesia, daging biawak sering dikonsumsi untuk meredakan penyakit kulit seperti eksim, gatal, atau psoriasis. Ada juga yang menggunakan minyak biawak untuk mengobati jerawat atau luka bakar.
Konon, kandungan antioksidan dan asam amino di dalamnya membantu regenerasi kulit.
Meski begitu, penelitian hanya mencatat fenomena ini di masyarakat, seperti di Pandeglang, Banten, tanpa bukti klinis yang jelas.
- Klaim untuk Kesehatan Saraf dan Pencernaan
Beberapa budaya Asia mempercayai daging biawak dapat menjaga kesehatan saraf, bahkan membantu gangguan seperti epilepsi, berkat kandungan protein dan asam amino.
Selain itu, daging ini dianggap mampu meredakan masalah pencernaan, seperti mual atau maag, karena melindungi lapisan lambung.
Sayangnya, manfaat ini belum terverifikasi secara medis dan hanya berdasarkan pengalaman tradisional.
- Risiko Bakteri dan Parasit yang Serius
Di balik potensi manfaatnya, daging biawak menyimpan bahaya besar.
Biawak liar sering membawa bakteri patogen seperti Salmonella, E. coli, dan parasit seperti cacing pita (Spirometra spp.), yang dapat menyebabkan sparganosis penyakit yang bisa menyerang otak atau organ lain, bahkan menyebabkan kejang hingga kematian.
Sekitar 69,64% biawak liar terinfeksi cacing pita, membuat konsumsinya berisiko tinggi jika tidak diolah dengan higienis.
- Belum Ada Bukti Ilmiah yang Kuat
Meski banyak kepercayaan tentang khasiat daging biawak, penelitian ilmiah masih sangat terbatas.
Sebagian besar klaim kesehatan berasal dari tradisi lisan, bukan uji klinis. Malah, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan risiko mikrobiologis dari daging reptil, termasuk infeksi zoonotik yang dapat ditularkan ke manusia.
Jadi, konsumsi biawak lebih merupakan praktik budaya ketimbang solusi medis yang terpercaya.
Konsumsi daging biawak mungkin terdengar menggoda bagi pencinta kuliner ekstrem atau mereka yang mencari pengobatan alternatif.
Namun, tanpa bukti ilmiah yang memadai, Anda perlu berpikir dua kali sebelum mencobanya. Pastikan daging dimasak hingga matang sempurna untuk meminimalkan risiko bakteri dan parasit, dan batasi konsumsi agar tidak berlebihan.
Jika Anda ingin manfaat kesehatan, sumber protein lain seperti ayam atau ikan jauh lebih aman dan terjangkau.
Jadi, apakah biawak layak diburu untuk dikonsumsi? Dengan risiko kesehatan yang jauh lebih besar daripada manfaat yang belum terbukti, sebaiknya pertimbangkan ulang.
Lindungi kesehatan Anda dengan memilih makanan yang sudah teruji aman, dan jika penasaran, konsultasikan dulu dengan ahli gizi atau dokter.
Jangan sampai petualangan kuliner berakhir dengan masalah yang tidak diinginkan!
Editor : Elna Malika