Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Kenapa Pura-pura Bahagia Justru Berbahaya? Ini Fakta Psikologis yang Perlu Kamu Tahu

Redaksi Radar Nganjuk • Senin, 12 Mei 2025 | 22:45 WIB
Ilistrasi seseorang yang depresi.
Ilistrasi seseorang yang depresi.

JP Radar Nganjuk – Di tengah tuntutan sosial dan tekanan hidup sehari-hari, tak sedikit orang terutama generasi muda yang memilih untuk menyembunyikan kesedihan mereka di balik senyum palsu.

Pura-pura bahagia seolah menjadi cara instan untuk tetap terlihat kuat dan “baik-baik saja” di hadapan orang lain.

Namun, tahukah kamu bahwa kebiasaan ini justru bisa berdampak serius bagi kesehatan mental?

Menurut para ahli psikologi, berpura-pura bahagia atau disebut juga toxic positivity, kondisi ketika seseorang menekan emosi negatif dan terus berusaha menampilkan kebahagiaan semu. Padahal, emosi sedih, marah, atau kecewa adalah bagian alami dari manusia.

Berikut beberapa fakta yang perlu diketahui tentang bahaya di balik kebiasaan pura-pura bahagia:

1. Menyimpan Emosi Bisa Meledak Sewaktu-waktu

Saat emosi negatif ditekan terus-menerus, ibarat air dalam panci tertutup yang terus dipanaskan suatu saat akan meluap. Orang yang terlihat selalu ceria bisa tiba-tiba meledak emosinya karena sudah tidak mampu lagi menahan beban batin.

2. Hubungan Sosial Bisa Jadi Tidak Tulus

Jika kita terlalu sering berpura-pura, orang di sekitar kita tidak akan tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan. Ini bisa menciptakan hubungan yang dangkal dan membuat kita merasa kesepian, meski dikelilingi banyak orang.

3. Menurunkan Rasa Percaya Diri

Berpura-pura bahagia membuat seseorang merasa harus selalu tampil "sempurna", padahal itu tidak realistis. Lama-kelamaan, hal ini bisa menurunkan kepercayaan diri dan membuat kita merasa tidak cukup baik jika terlihat rapuh.

 

4. Menghambat Proses Pemulihan Emosi

Emosi negatif yang diakui dan dihadapi dengan jujur justru bisa mempercepat pemulihan mental. Sementara jika terus ditutupi, luka batin akan semakin dalam dan sulit disembuhkan.

5. Menjadi Beban Mental Tersendiri

Tersenyum saat hati terluka bisa sangat melelahkan. Hal ini menciptakan konflik batin karena tubuh dan pikiran tidak sinkron. Energi pun terkuras untuk menjaga “topeng” kebahagiaan.

Lalu, Apa Solusinya?

Kuncinya adalah belajar jujur terhadap perasaan sendiri. Tidak apa-apa jika merasa sedih, kecewa, atau marah.

Ekspresikan dengan cara yang sehat, seperti menulis jurnal, bercerita ke orang terpercaya, atau berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Tak kalah penting, lingkungan sosial yang suportif juga punya peran besar. Sebagai warga Kediri yang saling peduli, mari kita mulai belajar mendengarkan tanpa menghakimi. Kadang, yang seseorang butuhkan hanyalah ruang untuk didengar dan dimengerti.

Penulis: Rozita Nur Azizah

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#Berita Hari Ini #toxic positivity #radar nganjuk #kesehatan mental #bahagia