Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Bukan Kebiri, Ini Fakta Medis Vasektomi yang Perlu Diketahui Pria!

Internship Radar Kediri • Rabu, 4 Juni 2025 | 02:00 WIB
Bukan Kebiri, Ini Fakta Medis Vasektomi yang Perlu Diketahui Pria!
Bukan Kebiri, Ini Fakta Medis Vasektomi yang Perlu Diketahui Pria!

JP Radar Kediri – Vasektomi kini menjadi salah satu metode kontrasepsi permanen yang semakin diminati pria, khususnya bagi mereka yang telah memutuskan untuk tidak menambah jumlah anak.

Prosedur ini dinilai sangat efektif, dengan tingkat keberhasilan mencegah kehamilan lebih dari 99 persen.

Vasektomi dilakukan dengan cara memotong atau menutup saluran sperma (vas deferens) agar sperma tidak keluar bersama cairan mani saat ejakulasi.

Meskipun begitu, pria tetap bisa berhubungan seksual seperti biasa.

Cairan yang keluar tetap tampak normal, namun tidak mengandung sperma yang bisa membuahi sel telur.

Prosedur vasektomi termasuk tindakan medis ringan. Prosesnya cepat, hanya sekitar 15–30 menit dengan bius lokal.

Pasien bisa langsung pulang setelah tindakan, dan umumnya pulih dalam beberapa hari.

Efek samping yang muncul biasanya ringan, seperti bengkak atau nyeri, dan bisa diatasi dengan kompres serta obat anti-nyeri.

Namun, perlu dicatat bahwa efek kontraseptif vasektomi tidak terjadi seketika.

Masih ada sisa sperma yang bisa keluar dalam beberapa minggu atau bulan pasca prosedur.

Oleh karena itu, pasangan dianjurkan menggunakan metode kontrasepsi lain sampai hasil tes menunjukkan cairan mani benar-benar bebas sperma.

Banyak yang masih salah paham mengira vasektomi bisa mengganggu fungsi seksual pria.

Padahal, vasektomi tidak memengaruhi produksi hormon testosteron, tidak mengganggu ereksi, libido, maupun orgasme.

Satu-satunya yang berubah hanyalah kandungan sperma dalam cairan ejakulasi.

“Vasektomi itu bukan kebiri. Pria yang menjalaninya tetap bisa hidup normal secara seksual, hanya saja tidak bisa membuahi,” ujar seorang dokter spesialis urologi.

Meski disebut permanen, vasektomi masih bisa dibalik lewat prosedur rekanalisasi, namun tingkat keberhasilannya tidak selalu tinggi dan biayanya relatif mahal.

Oleh sebab itu, keputusan vasektomi perlu dipikirkan matang-matang, terutama oleh pria yang benar-benar yakin tidak ingin memiliki anak lagi.

Partisipasi pria dalam program keluarga berencana memang masih tergolong rendah.

Padahal, dibandingkan metode kontrasepsi untuk wanita yang umumnya bersifat hormonal dan memiliki efek samping jangka panjang, vasektomi tergolong lebih aman dan tidak mengganggu keseimbangan hormon.

Pemerintah dan sejumlah lembaga kesehatan terus menggalakkan edukasi mengenai vasektomi sebagai bagian dari program keluarga berencana nasional.

Layanan konseling dan tindakan vasektomi pun mulai tersedia secara lebih luas di berbagai fasilitas kesehatan.

Dengan informasi yang tepat dan pemahaman yang benar, vasektomi bisa menjadi pilihan kontrasepsi yang aman, efektif, dan bertanggung jawab bagi pria yang ingin berkontribusi dalam perencanaan keluarga.

Penulis: Joenaidi Zidane, Mahasiswa Magang Politeknik Negeri Madiun (PNM)

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#kehamilan #medis #vasektomi