JP Radar Nganjuk – Kenaikan harga rumah yang terus-menerus ternyata tak hanya berdampak pada kondisi keuangan, tapi juga ikut memengaruhi kesehatan mental masyarakat.
Sebuah studi terbaru dari King's College London dan University of Cambridge mengungkap bahwa kesulitan memiliki rumah sendiri bisa meningkatkan risiko depresi dan kecemasan, terutama pada kalangan usia muda.
Penelitian ini melibatkan lebih dari 36 ribu responden dari 22 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa makin tak terjangkaunya harga rumah bisa menimbulkan tekanan psikologis yang cukup signifikan.
Beban biaya sewa yang tinggi maupun keinginan membeli rumah yang tak kunjung tercapai jadi sumber utama stres.
Profesor Tarani Chandola dari King’s College London menjelaskan bahwa ketidakmampuan untuk memiliki rumah sering kali membuat seseorang merasa tertinggal dari pencapaian hidup orang lain.
"Tekanan sosial ini bisa membuat orang merasa gagal atau putus asa," ungkapnya.
Tak hanya itu, studi ini juga menyoroti bahwa negara-negara dengan sistem perumahan yang tidak terjangkau cenderung memiliki tingkat masalah kesehatan mental yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara yang menyediakan hunian layak secara merata.
Fenomena ini juga mulai terasa di Indonesia. Harga properti yang terus naik setiap tahun, tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan masyarakat.
Banyak keluarga muda akhirnya terpaksa tinggal di rumah sewa atau menunda memiliki hunian sendiri. Pemerintah daerah diharapkan mulai memperhatikan isu ini.
Penyediaan rumah dengan harga terjangkau dan kebijakan perumahan yang ramah bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah bisa menjadi salah satu solusi mengurangi beban psikologis akibat tekanan ekonomi.
Dengan demikian, kebutuhan akan tempat tinggal tidak hanya dipandang sebagai urusan fisik semata, tetapi juga menyangkut kualitas hidup dan kesejahteraan mental masyarakat.
Penulis: Joenaidi Zidane, Mahasiswa Magang Politeknik Negeri Madiun (PNM)
Editor : Jauhar Yohanis