Bagi dunia kedokteran, glaukoma adalah penyakit mata yang ditandai dengan meningkatnya tekanan bola mata yang merusak saraf optik, perlahan mencuri penglihatan tanpa terasa. Namun bagi Ustadz Dhanu—pendakwah yang dikenal dengan pendekatan spiritual terhadap penyakit—glaukoma bukan hanya soal tekanan fisik, melainkan juga tekanan batin.
“Penyebab glaukoma itu karena ada kemarahan yang dipendam lama yang sangat kuat. Marah pada pasangan, orang tua, mertua atau orang terdekat,” ujarnya dalam salah satu tayangan dakwah di televisi nasional.
Ustadz Dhanu, menjelaskan bahwa penyakit kerap berakar dari emosi negatif yang tak terselesaikan. Glaukoma, menurutnya muncul ketika seseorang menyimpan jengkel, dendam, atau sakit hati dalam waktu lama tanpa pernah diungkapkan atau diselesaikan.
“Emosi yang tertahan itu menumpuk. Lama-lama jadi penyakit. Glaukoma salah satunya,” tuturnya.
Mengurai Emosi, Menjernihkan Penglihatan
Alih-alih langsung mencari obat atau operasi, Ustadz Dhanu menganjurkan pasien glaukoma untuk berintrospeksi. Ia menyarankan mereka bertanya pada diri sendiri: kepada siapa saya sedang marah? Apakah saya sedang menyimpan kecewa yang belum tersampaikan?
Dalam pendekatannya, penyembuhan harus dimulai dari hati. “Perbanyak istighfar, sholat malam, dan maafkan orang-orang yang pernah menyakiti, juga memohon maaf pada orang yang kita sakiti.,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya memperbaiki relasi dalam keluarga. “Banyak yang tidak sadar, glaukoma bisa muncul karena memendam sakit hati pada istri, suami, atau bahkan orang tua. Itu harus diselesaikan dulu.”
Namun, berbeda dengan sebagian penceramah spiritual lainnya, Ustadz Dhanu tidak menolak pengobatan medis. Ia menyebutkan bahwa pendekatan spiritual dan medis sebaiknya berjalan beriringan. “Ke dokter tetap. Jangan abaikan pengobatan. Tapi hatimu juga harus bersih.”
Baca Juga: Awas, Glaukoma Bisa Bikin Buta Tanpa Gejala! Kenali Tanda dan Cara Mengendalikannya
Antara Sains dan Spiritual
Dari sisi medis, glaukoma memang dikenal sebagai penyakit yang kompleks. Penyebab utamanya adalah peningkatan tekanan intraokular, bisa karena gangguan pada sistem drainase cairan bola mata. Faktor genetik, usia di atas 40 tahun, penyakit metabolik, dan trauma juga berperan besar.
Tidak ada literatur medis yang secara eksplisit mengaitkan emosi seperti marah atau dendam sebagai penyebab langsung glaukoma. Namun, banyak riset menyebut stres kronis sebagai faktor yang memperparah kondisi pasien, terutama karena dapat mempengaruhi tekanan darah dan sirkulasi mikro di mata.
Penyembuhan yang Menyeluruh
Dalam kenyataannya, semakin banyak pasien yang mulai mencari pendekatan holistik untuk pengobatan. Tak hanya obat, mereka mencari makna. Tak hanya laser dan operasi, mereka belajar berdamai dengan diri sendiri.
Ustadz Dhanu hadir di ruang itu—di antara laboratorium dan sajadah, di antara klinik dan perenungan. Ia tak menawarkan mukjizat, tapi menyodorkan perspektif: bahwa penyakit mungkin tak hanya datang dari luar, tapi juga dari dalam diri.
Glaukoma memang belum bisa disembuhkan. Tapi dengan hati yang jernih dan batin yang lapang, barangkali kita bisa melihat lebih banyak, bahkan sebelum mata kita kembali terang.
Editor : Jauhar Yohanis